Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

PANCASILA LAHIR ATAS DASAR APA, DAN UNTUK SIAPA?

Selasa, 02 Juni 2026 | 12.07 WIB Last Updated 2026-06-02T05:08:16Z


REFLEKSI HARI LAHIR PANCASILA 1 JUNI 2026

oleh Indra Kurniawan Lubis


Pancasila tidak lahir dari ruang-ruang mewah kekuasaan. Ia tidak lahir untuk menjadi slogan yang dipajang di dinding kantor, dihafalkan dalam upacara, lalu dilupakan dalam kebijakan. Pancasila lahir dari pergulatan panjang para pendiri bangsa yang menyaksikan rakyat hidup dalam kemiskinan, penjajahan, ketidakadilan, dan ketimpangan.

Pancasila lahir atas dasar penderitaan rakyat.

Ia lahir dari air mata kaum tertindas, dari keringat petani yang kehilangan tanahnya, dari suara buruh yang menuntut martabatnya, dari harapan nelayan yang menggantungkan hidup pada ombak, dan dari cita-cita jutaan rakyat Indonesia yang mendambakan kehidupan yang merdeka, adil, dan bermartabat.

Lalu pertanyaannya hari ini adalah:

Untuk siapa sebenarnya Pancasila?

Apakah Pancasila hanya untuk mereka yang memiliki kekuasaan?

Apakah Pancasila hanya untuk mereka yang memiliki akses terhadap kekayaan negara?

Ataukah Pancasila memang hadir untuk seluruh rakyat Indonesia sebagaimana cita-cita para pendiri bangsa?


Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa kekuasaan bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi juga kepada Tuhan. Maka tidak ada ruang bagi keserakahan yang dibungkus jabatan dan tidak ada tempat bagi kebijakan yang mengorbankan rakyat demi kepentingan segelintir orang.

Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama untuk hidup layak. Ketika masih ada rakyat yang kesulitan memperoleh pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang manusiawi, maka nilai kemanusiaan belum sepenuhnya hadir dalam kehidupan berbangsa.

Sila Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun untuk seluruh rakyat, bukan untuk kelompok tertentu. Persatuan bukan berarti membungkam kritik, melainkan menyatukan seluruh kekuatan bangsa untuk memperjuangkan keadilan bersama.

Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan mengandung pesan bahwa suara rakyat harus menjadi arah setiap kebijakan. Demokrasi kehilangan maknanya ketika aspirasi rakyat hanya didengar saat pemilu, lalu dilupakan setelah kekuasaan diperoleh.

Dan Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia adalah tujuan akhir dari seluruh perjalanan bangsa. Keadilan sosial bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang apakah rakyat kecil ikut merasakan kesejahteraan. Apakah petani memperoleh harga yang layak? Apakah nelayan dapat hidup sejahtera? Apakah pemuda memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan?

Hari ini, ketika kesenjangan sosial masih terasa, ketika korupsi masih menggerogoti kepercayaan rakyat, ketika kekayaan alam sering kali lebih menguntungkan segelintir pihak daripada rakyat banyak, maka pertanyaan tentang Pancasila harus terus kita gaungkan.


Pancasila lahir atas dasar perjuangan rakyat.

Maka Pancasila harus kembali kepada rakyat.

Bukan menjadi alat legitimasi kekuasaan, tetapi menjadi kompas moral bagi penyelenggara negara.

Bukan menjadi simbol seremonial tahunan, tetapi menjadi keberpihakan nyata terhadap mereka yang lemah.

Bukan sekadar dibacakan, tetapi diperjuangkan.

Pada Hari Lahir Pancasila ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri dan kepada seluruh pemegang amanah negeri:

Apakah kebijakan yang dibuat sudah mencerminkan nilai Pancasila?

Apakah kekuasaan yang dijalankan sudah berpihak kepada rakyat?

Apakah kemerdekaan yang diperjuangkan para pendiri bangsa benar-benar telah menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?


Jika rakyat masih menangis karena ketidakadilan, maka tugas kita belum selesai.

Jika rakyat masih kesulitan mendapatkan hak-haknya, maka perjuangan Pancasila belum selesai.

Dan selama ketidakadilan masih ada, suara rakyat akan terus bertanya:

"Pancasila lahir atas dasar apa, dan sampai hari ini, Pancasila sebenarnya untuk siapa?" (IKL)

×