Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Kursi Kosong di Warkop Senja

Minggu, 15 Maret 2026 | 01.04 WIB Last Updated 2026-03-14T23:28:17Z

Kursi Kosong di Warkop Senja

Oleh Erwinsyah Putra



Senja selalu punya cerita di sudut kota itu. Di sebuah warung kopi kecil di tepi jalan, tempat di mana aroma kopi berpadu dengan suara motor tua dan tawa anak-anak yang bermain di kejauhan.


Warung itu sederhana, dengan bangku-bangku kayu yang sudah lapuk dimakan waktu. Namun, ada satu kursi yang selalu kosong—di pojok, tepat di sebelah jendela yang menghadap ke jalan.

Kursi itu seperti menyimpan rahasia.


Tidak ada yang pernah duduk di sana, bahkan saat warung penuh sesak. Seperti ada kesepakatan tak tertulis antara para pelanggan dan pemilik warung, Pak Hasan.


Setiap kali ada yang mencoba duduk di sana, Pak Hasan akan mendekat dengan senyum tipis dan berkata lembut, "Kursi itu... lebih baik dibiarkan kosong."


Suatu senja yang basah setelah hujan reda, seorang pemuda bernama Dika masuk ke warung itu.


Jaketnya basah, rambutnya kusut, dan matanya tampak lelah. Ia mengusap wajahnya yang basah oleh gerimis sebelum melangkah ke dalam.


Ia memesan kopi hitam tanpa gula, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Matanya tertumbuk pada kursi kosong di sudut itu.

"Boleh aku duduk di sana?" tanyanya sambil menunjuk kursi itu.


Pak Hasan, yang sedang menuang kopi, menghentikan gerakannya sejenak. Pandangannya beralih dari cangkir ke Dika. Udara seolah membeku.


"Kursi itu... istimewa," jawab Pak Hasan pelan. "Kau pasti ingin tahu ceritanya."


Dika mengangguk. Rasa ingin tahunya membuncah. Ia merasa ada sesuatu yang tak biasa di balik kursi kosong itu.


Pak Hasan menarik napas panjang, lalu duduk di bangku di seberang Dika.


Suaranya rendah dan berat saat ia mulai bercerita.

"Dulu, kursi itu milik seseorang yang sangat berarti bagi banyak orang di sini. Namanya Alika.


Pak Hasan melanjutkan "Ia selalu duduk di sana setiap senja, menikmati kopi sambil menulis di buku catatannya. Orang-orang bilang, ia punya mimpi besar. Ingin menulis buku yang akan mengubah dunia. Tapi... dunia terlalu keras padanya."


Pak Hasan terdiam sejenak, menatap jendela yang masih basah oleh sisa hujan.

"Alika pergi tanpa jejak suatu hari. Hanya buku catatannya yang tertinggal di kursi itu."


Pak Hasan menaap pintu" Tidak ada yang tahu ke mana ia menghilang. Beberapa mengatakan ia merantau mencari mimpi yang lebih besar."


"Yang lain percaya ia menyerah pada dunia. Sejak itu, kursi itu tetap kosong. Seolah menunggunya kembali." Matanya menatap Dika


Dika mendengarkan dengan saksama. Hening menyelimuti sejenak sebelum ia akhirnya bertanya, "Apa yang ada di buku catatannya, Pak?"


Pak Hasan tersenyum tipis, namun matanya memancarkan kesedihan.


"Impian-impian. Cerita-cerita kecil yang ingin ia bagikan pada dunia. Aku membacanya sekali."


"Ia menulis tentang kota ini, tentang orang-orangnya, dan tentang harapannya yang sederhana—bahwa suatu hari ia akan kembali dan melanjutkan kisah itu." Tiba-tiba Pak Hasan berhenti sejenak.


Tapi... ia tidak pernah kembali."


"Kadang aku merasa ia masih ada di sini. Duduk di kursi itu, menatap senja seperti dulu." Wajah Pak Hasan mulai haru


Karena itu, aku biarkan kursi itu tetap kosong. Sebagai pengingat... atau mungkin harapan." Air mata keluar setetes, lalu diusapnya.


Dika terdiam. Ia menyesap kopinya perlahan, merasakan hangatnya mengalir di tenggorokan, namun hatinya terasa dingin.


Pandangannya kembali pada kursi kosong itu. Untuk sesaat ia merasa seperti melihat bayangan samar seseorang duduk di sana.


"Pak Hasan," katanya pelan, "mungkin Alika tidak pernah benar-benar pergi.


Mungkin ia selalu ada di sini, di setiap senja, menunggu seseorang untuk melanjutkan mimpinya." Dika tersenyum sedikit


Pak Hasan menatapnya pun tersenyum.

"Mungkin kau benar. Dan mungkin yang ia tunggu... adalah kau."


Dika tertegun. Ia menatap cangkir kopinya yang hampir kosong. Ada sesuatu yang bergemuruh dalam dadanya.


"Kalau begitu, biarkan aku duduk di sana," katanya mantap.


Pak Hasan mengangguk pelan.


"Silakan. Kursi itu mungkin memang sudah menunggumu sejak lama."


Dika berjalan perlahan menuju kursi itu.


Ia duduk dan merasakan dinginnya kayu di bawah tubuhnya, namun hatinya terasa hangat.


Senja masih menggantung di langit, meninggalkan cahaya oranye di cakrawala.


Malam itu Dika membuka buku catatannya sendiri dan mulai menulis.


Kata-kata mengalir begitu saja, seolah-olah seseorang membimbing tangannya.


Dan untuk pertama kalinya, kursi kosong itu tidak lagi terasa kosong.


Di luar, langit berubah menjadi gelap. Namun cahaya kecil dari dalam warung kopi itu tetap menyala, menyimpan cerita baru yang baru saja dimulai.

Keyword: cerpen warkop, cerita kursi kosong, cerpen senja, cerpen inspiratif, cerpen kehidupan
Copyright © 2026 Erwinsyah Putra. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. Dilarang Menjiplak tanpa Izin.
×