Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Panggung Terakhir Sang Sarjana

Minggu, 01 Maret 2026 | 21.34 WIB Last Updated 2026-03-08T17:56:12Z

Cerpen Eksklusif
11 Ramadhan 1447 / 01-03-2026
Erwinsyah Putra

Panggung Terakhir Sang Sarjana

Di antara ratusan orang tua yang sibuk memotret masa depan anaknya, hanya satu yang memotret dengan mata berkaca-kaca karena hampir tak mampu membelinya.

Pak Dangol berdiri di depan Aula Wisuda dengan kemeja putih yang sudah menipis di siku. Disetrika rapi. Sepatu hitamnya mengilap, meski retaknya tak bisa disembunyikan. Tangannya menggenggam rantang aluminium kecil dan map plastik bening berisi undangan yang sudah ia buka-tutup sepanjang perjalanan.

Spanduk besar di atas pintu aula berbunyi: “Wisuda Sarjana.”

Ia membacanya pelan.

“Anakku… Sarjana.”

Suaranya tenggelam oleh riuh tawa dan bunyi kamera.

Tak jauh dari situ, Murgit Mustika berdiri bersama dua sahabatnya.

Itilia dengan tas mahal yang selalu dipamerkan.

Loveta dengan lipstik merah yang tak pernah pudar.

“Kamu yakin papamu gak datang, Mur?” tanya Loveta sambil mengecek pantulan wajahnya di layar ponsel.

“Tenang,” jawab Murgit ringan. “Beliau sibuk.”

“Sibuk kebun sawit, ya?” Itilia tertawa kecil.

Murgit tersenyum tipis.

Beberapa bulan lalu, di kampung, Pak Dangol menjual satu-satunya kambing yang biasa ia elus setiap sore.

Uangnya ia transfer dengan pesan singkat: Buat bayar kampus, Nak. Jangan sampai telat.

Murgit waktu itu membalas singkat: Iya.

Sisanya habis untuk tas baru.

Buttal berdiri beberapa langkah dari mereka.

Kemeja birunya sederhana.

Tangannya menggenggam map wisuda sendiri.

Tatapannya lebih sering jatuh ke Murgit daripada ke panggung.

Ia menyukai gadis itu sejak semester dua.

Tapi ia terlalu tahu siapa Murgit sebenarnya.

Ia pernah melihat sendiri Pak Dangol datang diam-diam ke kantor administrasi.

“Maaf, Pak… kalau uangnya kurang, saya tambah lagi bulan depan.”

Padahal dari buku pembayaran, yang kurang bukan kiriman ayahnya—melainkan sisa dari uang yang tak pernah sampai ke kasir kampus.

Buttal tahu.

Dan ia diam terlalu lama.

Pintu aula terbuka.

Wisudawan mulai keluar satu per satu.

Murgit merapikan toga.

“Fix ya, kita foto dulu sebelum keluarga datang,” kata Itilia.

Loveta mengangguk.

“Biar feed Instagram kita estetik.”

Murgit tertawa kecil.

Lalu tawanya membeku.

Di seberang, Pak Dangol melambaikan tangan pelan.

Rantang kecil itu masih digenggamnya.

Wajahnya penuh cahaya yang tak dibuat-buat.

“Murgit!” panggilnya, polos. “Ayah di sini, Nak!”

Beberapa kepala menoleh.

Senyum Murgit runtuh.

“Itu siapa?” bisik Itilia.

Pak Dangol melangkah mendekat.

“Mur, Ibu kamu titip lemang. Katanya kamu suka.”

Murgit mendekat cepat.

Suaranya ditekan keras.

“Ayah jangan keras-keras manggil aku.”

Pak Dangol terdiam sesaat.

Lalu tersenyum lagi.

“Ayah cuma bangga, Nak. Ayah mau lihat kamu naik panggung tadi…”

“Ayah pulang saja, ya. Jangan di sini.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam sumur.

Pak Dangol berkedip.

“Pulang? Tapi Ayah belum foto sama kamu…”

Ia mengangkat rantang sedikit.

“Ini Ayah bawa dari rumah. Ayah berangkat subuh tadi. Takut telat.”

Subuh tadi, Pak Dangol berangkat dengan bus pertama.

Ongkosnya ia dapat setelah menjual cincin kawinnya yang sudah longgar di jarinya.

Ia bilang pada istrinya, “Nanti kita beli lagi.”

“Ayah, aku malu.”

Sunyi.

Bahkan riuh aula terasa menjauh.

Pak Dangol menatap anaknya seperti baru belajar membaca wajah.

“Malu… sama Ayah?”

Buttal melangkah mendekat.

“Bapakmu jual kambingnya buat bayar UKT kamu, Mur.”

“Bapakmu datang ke administrasi karena takut kamu di-drop out.”

“Dan kamu bilang beliau pengusaha sawit?”

Wajah Murgit memucat.

“Diam kamu, Buttal!”

“Aku diam empat tahun, Mur. Cukup.”

Pak Dangol menunduk sedikit.

Lalu ia tersenyum—senyum yang dipaksa berdiri.

“Kalau Ayah bikin kamu malu… Ayah minta maaf.”

Nama “Murgit Mustika binti Hadangolan Ngolu” dipanggil dari dalam aula.

Tepuk tangan riuh.

Murgit berdiri kaku.

“Ayah tunggu…” ucapnya pelan.

Tapi Pak Dangol sudah berbalik.

Langkahnya tidak cepat.

Hanya sedikit lebih berat.

Di punggungnya yang mulai bungkuk, tergantung kebanggaan yang tak sempat dipamerkan.

Dan untuk pertama kalinya, gelar “Sarjana” terasa lebih berat daripada seluruh pengorbanan yang pernah ia lakukan.

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Cerpen Ramadhan 2026, Cerpen Sosial, Cerpen Keluarga, Cerita Wisuda, Pengorbanan Orang Tua, Cerpen Mengharukan, Erwinsyah Putra
×