Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Dialog Api dan Angin dengan Manusia

Senin, 09 Maret 2026 | 01.00 WIB Last Updated 2026-03-13T15:46:33Z

Cerpen Eksklusif
12 Ramadhan 1447 H / 02-03-2026
Erwinsyah Putra

Ilustrasi cerpen Dialog Api dan Angin dengan Manusia

Dialog Api dan Angin dengan Manusia


Pukul dua lewat sedikit ketika seseorang pertama kali berteriak dari ujung gang.

“Api! Api!”

Sebuah rumah kayu kecil terbakar di tengah malam yang sunyi. Cahaya merah memantul di dinding-dinding rumah tetangga. Orang-orang keluar dengan wajah panik, sebagian membawa ember, sebagian lagi hanya berdiri terpaku melihat api merambat cepat dari dapur ke ruang tengah.

Air disiramkan berkali-kali. Namun setiap kali air mengenai kayu yang menyala, api justru mendesis dan membesar, seperti makhluk yang tersinggung.

Angin malam berhembus dari arah sawah. Nyala api bergoyang, lalu menjilat bagian atap.

“Cepat! Ambil air lagi!” teriak seseorang.

Di tengah keributan itu, terdengar suara aneh.

Awalnya hanya seperti desisan panjang.

Sssshhhh…

Orang-orang mengira itu hanya suara kayu yang terbakar. Namun desisan itu berubah. Pelan-pelan… seperti membentuk kata.

“Aku… tidak… memilih…”

Beberapa orang berhenti menyiram air. Mereka saling memandang.

Suara itu terdengar lagi, lebih jelas.

“Aku tidak pernah memilih…”

Barulah mereka sadar. Suara itu datang dari api itu sendiri.

Nyala api bergerak liar seperti sedang berbicara.

“Aku hanya melakukan satu hal sejak aku lahir,” katanya. “Membakar.”

Angin berputar di atas atap yang mulai runtuh.

“Bukankah itu memang pekerjaanmu?” tanya Angin, dingin.

Api menjawab, “Benar. Tetapi aku tidak pernah memilih apa yang harus kubakar.”

Angin meniup bara yang beterbangan.

“Lalu siapa yang memilih?” tanya Angin.

Api tidak menjawab. Ia hanya menoleh ke arah seorang pria yang berdiri beberapa langkah dari rumah yang terbakar.

Pria itu pucat. Dialah pemilik rumah.

Beberapa saat sebelumnya, ia meninggalkan dapur dengan kompor yang masih menyala. Ia pikir api kecil itu tidak akan menjadi apa-apa.

Api kembali berbicara.

“Aku lahir dari percikan kecil di dapurmu.”

Angin ikut menambahkan, “Aku hanya lewat dari jendela yang kau biarkan terbuka.”

Pria itu mundur selangkah.

Api meninggi.

“Manusia selalu berkata: api yang menghancurkan segalanya.”

Nyala api menjilat jendela.

“Tapi tidak ada api yang datang tanpa dipanggil.”

Orang-orang mulai mundur ketika atap rumah runtuh dengan suara keras.

Api kini menjalar ke rumah di sebelahnya.

Angin meniup semakin kencang.

“Lihat,” kata Api kepada Angin, “mereka masih menyalahkanku.”

Api membesar. Kayu-kayu retak. Dinding roboh.

Satu rumah berubah menjadi dua rumah yang terbakar. Kemudian tiga.

Orang-orang berlarian membawa air yang semakin terasa sia-sia.

Api berkata pelan, “Aku tidak pernah memilih rumah mana yang harus kubakar.”

Angin berhembus lebih kuat.

“Aku tidak pernah memilih ke mana harus meniup.”

Keduanya menatap manusia yang berdiri gemetar.

“Yang memilih,” kata Api, “adalah tanganmu sendiri.”

Tak lama kemudian, seluruh deretan rumah di gang itu berubah menjadi lautan api.

Kayu, kain, meja, kursi, kenangan—semuanya habis dilahap.

Ketika tidak ada lagi yang tersisa selain bara, Angin datang sekali lagi. Ia mengangkat abu dari tanah.

Abu itu beterbangan ke langit seperti kawanan burung abu-abu.

Di tengah abu yang berputar-putar, pria itu masih berdiri.

Tidak bergerak.

Tidak berteriak.

Ia hanya menatap puing rumahnya…

dan perlahan menundukkan kepala.

Untuk pertama kalinya ia mengerti:

Api memang membakar. Tetapi bukan api yang memilih untuk lahir.

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Cerpen Ramadhan 2026, Cerpen Sosial, Cerpen Kebakaran, Cerpen Filosofis, Dialog Api dan Angin, Cerpen Pendek, Erwinsyah Putra
×