Sungai Air Mata
Oleh Erwinsyah Putra
Matahari bersinar terik sejak pagi. Daun-daun kering berserakan di jalanan, tersapu angin gersang.
Sungai kecil di pinggir desa menyusut nyaris menjadi selokan panjang berbau busuk, dipenuhi plastik, sisa makanan, dan botol-botol bekas yang mengapung malas di permukaannya.
***
Di bawah pohon asam tua depan warung kopi, lima orang duduk mengelilingi meja kayu.
“Ah, makin hari panasnya makin jadi aja!” keluh Rahmad sambil melepas topinya.
“Namanya juga kemarau,” jawab Parman santai. “Emang mau hujan tiap hari?”
“Banjir dikit nggak apa-apa. Yang penting adem,” sahut Rahmad sambil menendang kaleng kosong ke pinggir jalan.
Sari datang membawa dua kantong plastik besar. “Debunya bikin sesak napas,” gerutunya.
“Makanya jangan buang sampah sembarangan,” celetuk Larmi.
“Buang ke sungai aja gampang,” jawab Parman enteng. “Tinggal lempar, selesai.”
Mereka tertawa. Sungai yang kotor itu tak pernah benar-benar mereka pedulikan.
***
Beberapa hari kemudian, hujan turun deras tanpa jeda. Langit menggantung pekat di atas desa.
Awalnya hanya rintik. Lalu berubah menjadi curahan air tanpa ampun.
“Air masuk ke dapur!” teriak Sari panik.
“Lubangnya mampet! Banyak sampah nyangkut!” jawab Joni.
Kali kecil di belakang desa meluap. Sampah yang selama ini mereka buang membentuk bendungan liar.
Air tak lagi mengalir. Ia mencari jalan sendiri—ke rumah-rumah warga.
Air naik setinggi lutut. Lalu pinggang.
“Rumahku ambruk!” teriak Joni histeris.
“Lari ke tempat tinggi!” seru Parman.
Jeritan warga bercampur suara petir. Jalan berubah menjadi sungai deras.
Hujan baru reda saat fajar menyingsing, tetapi banjir telah merenggut lebih dari sekadar harta benda.
***
Pagi itu, desa tinggal puing dan lumpur.
Joni terduduk lemas di depan reruntuhan rumahnya. “Ini salah kita,” gumamnya.
Parman menatap kosong. Rahmad terdiam. Sari menangis. Larmi kehilangan anak-anaknya.
“Kita terlalu egois,” kata Rahmad lirih. “Alam punya batas.”
***
Hening menggantung di antara mereka.
“Mulai sekarang, nggak ada lagi buang sampah sembarangan,” ucap Parman pelan tapi tegas. “Kita buat aturan. Kita tegur yang melanggar.”
“Kita pisahkan sampah. Bikin desa ini aman,” tambah Rahmad.
Mereka sadar, perubahan tak bisa menghidupkan kembali yang telah hilang.
Namun itu satu-satunya cara agar sungai tak lagi menjadi air mata.