Cerpen Eksklusif
17 Ramadhan 1447 H / 07-03-2026 M
Erwinsyah Putra
Sorak Serapah Nirguna
“Rasanya meja ini sudah lebih tua dari kita.”
“Memang iya, Sastro. Dari zaman ayahku muda, meja kayu ini sudah di sini.”
“Kalau begitu wajar dia tahu lebih banyak cerita daripada kita.”
“Apa jangan-jangan dia juga bosan dengar kita tiap sore?”
“Yang bosan itu kamu, Wiryo. Dari tadi cuma lihat langit-langit.”
“Langit-langitnya bocor lagi ya?”
“Iya. Lihat itu, bekas ember di pojok.”
“Ah, kedai kopi tua memang begitu. Bau kopi, kayu lapuk, sama kipas angin yang bunyinya seperti mesin traktor.”
“Kau masih pakai jaket lusuh itu, Sastro?”
“Ini jaket kerja. Kau pikir jadi pengais sampah pakai jas?”
“Jangan marah. Aku cuma bilang saja. Tapi topi rotanmu itu masih sama sejak dulu.”
“Daripada kamu, Joyo. Sarung di pinggang, kaos oblong, sandal jepit… pedagang keliling kok gayanya seperti orang baru bangun tidur.”
“Kalau kamu sendiri, Wiryo?”
“Aku?”
“Iya. Helm ojekmu masih menggantung di kursi. Tapi jaketnya sudah pudar.”
“Serabutan, kawan. Kadang narik ojek, kadang angkut barang, kadang antar galon. Yang penting masih makan.”
Sastro menyeruput kopi.
“Dunia ini aneh sekarang.”
“Kenapa tiba-tiba bicara dunia?”
“Kemarin aku dengar di radio bekas yang kutemukan di tong sampah… katanya ada Board Of Peace rapat lagi.”
“Board apa?”
“Board Of Peace.”
“Oh, itu badan perdamaian dunia itu?”
“Iya.”
“Percuma.”
“Kenapa?”
“Karena di berita juga bilang perang Iran sama Amerika makin panas.”
Wiryo mengangguk.
“Kalau dua negara besar sudah saling gertak… yang kecil cuma bisa dengar dari radio.”
Joyo tertawa kecil.
“Untung kita bukan orang penting. Kalau kita orang penting, mungkin sudah pusing memikirkan perang.”
“Ah, jangan salah,” kata Sastro. “Perang itu juga sampai ke kita.”
“Bagaimana bisa?”
“Kalau minyak naik… BBM ikut naik.”
“Ngomong-ngomong BBM,” kata Wiryo. “Harga bensin lagi naik minggu ini.”
“Sudah kuduga.”
“Kenapa?”
“Karena setiap ada masalah dunia… yang pertama naik selalu bensin.”
Joyo menggeleng.
“Pedagang keliling seperti aku yang pertama kena.”
“Kenapa?”
“Kalau bensin mahal, ongkos jalan mahal. Kalau ongkos mahal, orang malas beli dagangan.”
Sastro menghela napas.
“Yang paling repot itu sembako.”
“Betul.”
“Beras naik.”
“Minyak goreng naik.”
“Telur naik.”
Wiryo menepuk meja kayu itu.
“Untung kopi di kedai ini masih murah.”
Joyo tiba-tiba berkata.
“Kalian dengar berita Olimpiade kemarin?”
“Olimpiade apa lagi?”
“Olimpiade olahraga.”
“Ah, aku hanya dengar sekilas.”
“Katanya atlet kita dapat medali.”
“Baguslah.”
“Tapi lucu juga.”
“Apa yang lucu?”
“Negara kita sibuk debat harga beras… tapi di televisi orang sorak-sorai soal medali.”
Wiryo tertawa pendek.
“Manusia memang perlu hiburan.”
Sastro menggaruk jenggot tipisnya.
“Kalian dengar program MBG?”
“MBG?”
“Makan Bergizi Gratis.”
“Oh iya.”
“Katanya untuk anak-anak sekolah.”
“Bagus itu.”
Joyo mengangguk.
“Setidaknya ada yang memikirkan anak-anak.”
Wiryo berkata pelan.
“Kalau benar sampai ke semua anak.”
Sastro menatap mereka berdua.
“Ngomong-ngomong soal anak…”
Joyo langsung mendengus.
“Jangan mulai.”
“Kenapa?”
“Karena kita bertiga selalu berakhir bertengkar kalau bicara anak.”
Wiryo tertawa hambar.
“Benar juga.”
Sastro berkata pelan.
“Anakku, Waskita, sekarang di penjara.”
Kedai menjadi sunyi sebentar.
“Kasus sabu.”
Joyo menghela napas.
“Berapa lama?”
“Sepuluh tahun.”
Wiryo menggeleng.
“Padahal dulu dia rajin.”
“Iya.”
“Sekarang kau bicara soal anak kami?”
Joyo mengangkat alis.
“Anakku Dharma sekarang jadi buronan.”
“Buronan?”
“Mencuri emas dari toko tempat dia kerja.”
“Berapa?”
“Puluhan juta.”
Wiryo tertawa pahit.
“Kalau begitu kita sama-sama gagal.”
Sastro menatapnya.
“Anakmu bagaimana?”
Wiryo menghela napas panjang.
“Prawira… kabur dari kampung.”
“Kenapa?”
“Pergaulan bebas.”
“Dia bawa perempuan orang.”
“Lalu?”
“Suaminya mengejar.”
Joyo tertawa keras.
“Jadi dia kabur?”
“Iya.”
Sastro memukul meja.
“Kalian bicara seolah anakku paling buruk!”
Joyo langsung berdiri.
“Anakku juga tidak lebih baik!”
Wiryo ikut bangkit.
“Setidaknya anakku tidak menjual racun!”
“Anakku tidak mencuri!”
“Tapi dia merusak rumah tangga orang!”
Suara mereka meninggi.
Kipas tua di langit-langit berderit.
Cahaya sore masuk melalui jendela kayu.
Tiga lelaki tua itu berdiri di sekitar meja kayu yang penuh bekas goresan.
Mereka masih berteriak.
Masih saling menyalahkan.
Masih menunjuk satu sama lain.
Tiba-tiba semuanya berhenti.
Gerakan mereka membeku.
Suara mereka hilang.
Seorang pemuda memegang ponsel.
“Ah, bentar.”
Ia menekan layar.
Video berhenti.
Ia berdiri.
“Perutku sakit.”
Pemuda itu berkata sendiri.
Namanya Raka.
Kaos oversize, celana training, rambut gondrong khas Gen Z.
Ia berjalan ke kamar mandi sambil membawa ponsel.
Di layar yang terjeda terlihat judul video YouTube:
“DEBAT PANAS TIGA ORANG TUA DI KEDAI KOPI TUA – FULL ARGUMENT!”
Video berhenti tepat ketika tiga lelaki tua itu saling menunjuk.
Membeku di sekitar meja kayu tua.
Keyword: cerpen ramadhan, cerpen dialog, cerpen kedai kopi, cerpen sosial ramadhan, cerpen filsafat sosial, cerpen erwinsyah putra
Copyright © 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang Menjiplak tanpa Izin