Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Harapan Kecil Penjual Takjil - Diary Fillo

Jumat, 13 Maret 2026 | 04.50 WIB Last Updated 2026-03-12T22:07:11Z

Cerpen Eksklusif

18 Ramadhan 1447 H / 08-03-2026

Erwinsyah Putra



Diary Fillo: Harapan Kecil Penjual Takjil


1 Ramadhan – 06.10 WIB Dapur Rumah Kontrakan, Gang Melati, Kecamatan Suka Damai

Hari pertama puasa.

Pagi ini dapur penuh uap santan. Panci bubur kacang hijau mendidih. Pisang kukus ditata di tampah. Aku menghitung lagi uang pinjaman yang semalam kuterima dari Pak Sarman.

Rp3.000.000.

Tanganku masih gemetar saat menulis ini.

Aku tidak pernah meminjam uang sebanyak ini.

Tapi tahun ini aku ingin jualan takjil yang lebih banyak. Bubur sumsum. Kolak pisang. Lontong isi. Risoles. Pastel. Agar orang yang pulang kerja di jalan protokol bisa langsung beli.

Kalau laku semua… aku bisa bayar uang sekolah Rani bulan depan.

Rani semester empat sekarang. Anak pertama yang kuliah dari keluarga kami.

Aku bangga sekali.

***

1 Ramadhan – 15.40 WIB Jalan Protokol Ahmad Yani, Depan Kantor Kecamatan

Lalu lintas ramai.

Motor berseliweran. Mobil kantor pulang kerja.

Aku sudah menata semuanya di meja lipat: kolak, bubur, gorengan, es timun suri.

Jam di HP menunjukkan 15.40.

Belum ada pembeli.

Aku mencoba tersenyum ke setiap orang yang lewat.

“Takjil, Pak… takjil Bu…”

Mereka lewat saja.

***

1 Ramadhan – 16.02 WIB Lokasi yang sama

Yang datang bukan pembeli.

Tiga mobil patroli berhenti.

Tulisan SATPOL PP di pintunya.

Seorang petugas turun. Seragam cokelat. Topi hitam.

Dia berkata pendek.

“Ibu tidak boleh berjualan di jalan protokol. Ini melanggar Perda.”

Aku menjelaskan.

“Pak… ini cuma sampai buka puasa. Saya pinjam uang buat modal.”

Dia menggeleng.

“Ibu harus pindah sekarang.”

Aku berkata lagi.

“Pak… belum ada yang beli. Biarkan sampai magrib saja.”

Petugas lain berkata lebih keras.

“Kalau tidak dipindahkan sekarang, kami angkut.”

Aku merasa dadaku panas.

Aku hanya ingin mencari rezeki.

Bukan mencuri.

***

1 Ramadhan – 16.17 WIB Masih di Jalan Ahmad Yani

Aku tidak tahu kenapa aku melakukan itu.

Tiba-tiba aku mengambil panci kolak.

Kulempar ke aspal.

Bubur sumsum menyebar di jalan. Gelas plastik berguling.

Aku menangis.

Aku melempar semuanya.

Pastel. Risoles. Timun suri.

Semua.

Orang-orang menonton dari motor mereka.

Ada yang merekam dengan ponsel.

Aku tidak peduli lagi.

***

4 Ramadhan – 21.30 WIB Rumah Kontrakan

Anak bungsuku, Aldi, menunjukkan sesuatu di HP.

“Ibu… ini ibu kan?”

Video itu.

Video aku menangis di jalan.

Sudah jutaan yang menonton.

Komentarnya banyak sekali.

Ada yang menulis: “Kasihan ibu ini.”

Ada juga yang menulis: “Peraturan tetap peraturan.”

Aku membaca semuanya sampai mataku perih.

***

6 Ramadhan – 10.15 WIB Kampus Negeri Suka Damai

Rani tidak masuk kuliah hari ini.

Dia datang ke rumah bersama temannya.

Namanya Dimas. Katanya pengacara magang.

Rani berkata pelan.

“Ibu… kita lapor saja ke Polres. Ini tidak adil.”

Aku takut.

Tapi Rani memegang tanganku.

“Ibu cuma cari makan.”

Akhirnya mereka berdua pergi ke Polres Suka Damai.

***

7 Ramadhan – 19.05 WIB Rumah

Aku membuat video.

Rani yang merekam.

Aku duduk di kursi plastik.

Lampu rumah redup.

Aku hanya berkata:

“Saya tidak melawan pemerintah. Saya cuma ingin keadilan. Saya ibu dari lima anak.”

Suara tangisku masuk ke rekaman.

Video itu diunggah Rani.

***

9 Ramadhan – 14.00 WIB Rumah

Televisi menyiarkan kabar tentangku.

Katanya videoku sudah sampai ke Jakarta.

Katanya Presiden meminta Bupati Suka Damai menyelesaikan masalah ini.

Tetangga berdatangan.

Ada yang membawa nasi.

Ada yang menepuk pundakku.

Aku tidak tahu harus merasa senang atau takut.

***

10 Ramadhan – 11.40 WIB Kantor Pemerintah Kabupaten

Aku dipanggil.

Ruangannya dingin sekali.

Seorang pejabat membacakan surat.

Katanya aku melanggar Perda dan membuat pernyataan yang merusak citra pemerintah kabupaten.

Dendanya:

Rp1.000.000.000.

Satu miliar rupiah.

Aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak itu.

Kakiku lemas.

***

23 Ramadhan – 08.10 WIB Lapas Perempuan Suka Damai

Aku menulis ini dari dalam sel.

Karena aku tidak mampu membayar denda.

Aku ditahan.

Rani masih kuliah.

Empat adiknya masih sekolah.

Aku tidak tahu siapa yang akan membuatkan mereka sarapan besok.

Kadang aku berpikir…

Seandainya hari itu aku tidak melempar kolak ke jalan.

Mungkin semuanya tidak akan seperti ini.

Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Dan bubur itu… sudah lama mengering di aspal Jalan Ahmad Yani.

Aku masih menunggu keadilan.

Entah dari siapa.

Entah sampai kapan.



Keyword: cerpen ramadhan, diary fillo, cerpen sosial, penjual takjil, cerita ramadhan



Copyright © 2026 Erwinsyah Putra. DIlarang Menjiplak Tanpa Izin

×