Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Saat Manusia-Manusia Itu Abadi

Kamis, 12 Maret 2026 | 01.48 WIB Last Updated 2026-03-11T18:57:22Z

Cerpen Eksklusif

16 Ramadhan 1447 H / 06-03-2026 M

Erwinsyah Putra


Saat Manusia-Manusia Itu Abadi


Detak duduk di samping ranjang rumah sakit.

“Ibu masih bisa mendengar aku?”

Ibunya membuka mata pelan.

“Detak… kau datang lagi.”

“Aku selalu datang, Bu. Tiga puluh tahun ini aku selalu datang.”

Ibunya tersenyum lemah.

“Tiga puluh tahun… ya?”

“Iya.”

Ibunya menatap langit-langit.

“Dulu kau datang sambil menangis. Sekarang kau datang sambil diam.”

Detak menatap tangannya.

“Ibu ingat luka ini?”

Ibunya mengangguk kecil.

“Pisau bawang di dapur.”

“Aku lima tahun waktu itu.”

“Dan aku panik setengah mati.”

Detak mengangkat telapak tangannya.

“Sekarang aku tiga puluh lima… tapi luka ini masih sama.”

Ibunya memandang luka itu lama.

“Masih sakit?”

Detak tertawa kecil.

“Sudah tidak tahu lagi rasanya sembuh, Bu. Luka ini seperti jam. Selalu berdetak.”

Ayahnya yang duduk di kursi plastik di sudut ruangan menoleh.

“Detak… kau di mana?”

“Aku di sini, Yah.”

“Dekat ibumu?”

“Iya.”

Ayahnya memicingkan mata.

“Aku masih bisa melihat bayangan kalian… tapi wajah kalian sudah seperti kabut.”

Detak menatap ayahnya.

“Operasi laser kedua bulan lalu gagal lagi.”

Ayahnya tersenyum pahit.

“Dokter bilang mataku sudah terlalu tua.”

Ibunya pelan berkata.

“Kau bahkan belum tujuh puluh…”

Ayahnya menghela napas.

“Umur memang berjalan, tapi akhir tidak datang.”

***


Dari lorong terdengar seseorang berteriak.

“Perawat! Tolong! Tolong!”

Langkah kaki berlarian.

Detak melirik ke pintu.

“Ruang sebelah lagi?”

Ayahnya mengangguk pelan.

“Pasien lama itu.”

“Yang perang?”

“Iya.”

“Dia sudah di sini sejak kapan?”

Ayahnya berpikir sebentar.

“Sejak aku kecil.”

Detak terdiam.

“Berarti hampir seratus tahun…”

Ibunya pelan berkata.

“Dia paru-parunya hancur oleh gas perang. Dokter dulu bilang dia tidak akan bertahan seminggu.”

Detak melihat lorong yang sesak.

“Sekarang dia sudah seabad menunggu minggu itu.”

Ayahnya tersenyum pahit.

“Rumah sakit ini sudah seperti gudang manusia yang tidak bisa pergi.”

Ibunya mengangguk pelan.

“Ruang anak penuh. Ruang orang tua penuh. Lorong penuh.”

Detak berkata pelan.

“Kemarin aku melihat seorang bayi yang lahir dengan penyakit jantung.”

“Lalu?”

“Dokter bilang dulu bayi seperti itu hanya bertahan beberapa hari.”

Ibunya menutup mata.

“Sekarang?”

“Sekarang ia akan hidup… tanpa tahu kapan penderitaannya selesai.”

Ayahnya menunduk.

“Rumah kita dulu kecil, tapi selalu ramai.”

Detak mengangguk.

“Sekarang rumah kita juga ramai.”

“Dengan siapa?”

“Dengan orang-orang tua yang tidak bisa pergi.”

Ibunya membuka mata.

“Detak…”

“Iya, Bu?”

“Kau pernah berpikir kenapa semua ini terjadi?”

Detak diam sebentar.

“Setiap hari.”

“Lalu?”

“Aku tidak menemukan jawabannya.”

Ia menatap ibunya.

“Bu… kenapa ini terjadi?”

***


Ruangan menjadi sunyi.

Ayahnya ikut menoleh ke arah ranjang.

Ibunya memandang mereka berdua.

Lalu berkata pelan.

“Kalian pernah mendengar cerita lama?”

Sejak hari itu…

tidak ada lagi kematian.

Ruangan menjadi sangat sunyi.

Detak menatap luka di tangannya.

Ia menatap ayahnya yang hampir buta.

Ia menatap ibunya yang sudah tiga puluh tahun menunggu akhir yang tidak datang.

Dari lorong rumah sakit terdengar suara batuk. Tangisan. Ranjang yang didorong.

Detak membuka mulut.

Seolah ingin mengatakan sesuatu.

Tetapi tidak ada kata yang keluar.

Ia hanya duduk di sana.

Diam.

Karena ia tahu satu hal yang tidak bisa ia ubah.

Kematian telah berhenti bekerja.



Keyword: cerpen filsafat, cerpen kematian berhenti, cerpen kehidupan abadi, cerpen rumah sakit, cerpen sosial, cerpen Erwinsyah Putra



Copyright: © 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang Menyalin Tanpa Izin

×