Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Pemuda yang di Atas Batu di Tepi Pantai Itu

Senin, 09 Maret 2026 | 01.45 WIB Last Updated 2026-03-08T22:09:14Z

Cerpen Eksklusif
13 Ramadhan 1447 H / 03-03-2026
Erwinsyah Putra

Ilustrasi cerpen Pemuda di Atas Batu di Tepi Pantai

Pemuda yang di Atas Batu di Tepi Pantai Itu


Di atas batu besar di pinggir pantai, seorang pemuda duduk sendirian. Angin laut meniup rambutnya, membawa bau asin dan suara ombak yang berulang-ulang memukul karang.

Di seberang sana berdiri sebuah tebing batu tinggi.

Tempat itu bukan tempat asing baginya.

Dulu, saat mereka masih remaja, ia dan abangnya sering datang ke sana setiap akhir pekan. Mereka berlari di atas rumput tebing, tertawa, dan berlomba siapa yang paling berani berdiri paling dekat dengan jurang.

Ia menatap lama ke arah tebing itu.

Lalu sebuah pikiran pahit muncul di kepalanya.

"Seandainya aku bisa kembali ke masa lalu..."

Matanya menyipit.

"Aku tidak akan menolongnya."

Ia masih ingat hari itu.

Abangnya tergelincir di pinggir tebing. Tubuhnya sempat menggantung di batu.

Dan dia... adalah orang yang menarik tangan abangnya naik kembali.

Hari itu mereka berdua pulang dengan selamat.

Namun bertahun-tahun kemudian semuanya berubah.

Ketika ayah mereka pensiun, pabrik dan kebun kopi warisan keluarga diserahkan sepenuhnya kepada sang abang.

Bukan kepadanya.

Ia merasa dikhianati.

"Kalau saja waktu itu aku membiarkannya jatuh..."

"Semua itu pasti milikku."

Saat itulah sebuah suara terdengar di belakangnya.

“Apakah itu yang kau inginkan?”

Pemuda itu terkejut dan menoleh.

Seorang pria tua berdiri di belakangnya. Wajahnya tenang, matanya dalam seperti menyimpan usia yang sangat panjang.

“Aku penjaga waktu,” katanya pelan.

“Jika kau benar-benar ingin melihatnya terjadi... aku bisa membawamu kembali.”

***

Tiba-tiba dunia berubah.

Angin menjadi lebih segar. Suara ombak terdengar lebih jauh.

Pemuda itu berdiri di atas tebing yang sama, tetapi dalam waktu yang berbeda.

Ia melihat dirinya yang lebih muda.

Ia melihat abangnya.

Dan ia melihat kejadian itu kembali.

Kaki abangnya tergelincir.

Tubuhnya terjatuh ke arah jurang.

Tangannya mencoba meraih batu.

Abangnya berteriak.

“Toloooong!”

Pemuda itu berdiri di sana.

Diam.

Ia tahu bahwa jika ia bergerak satu langkah saja, ia bisa menyelamatkannya.

Namun ia tidak bergerak.

Tangannya tetap di samping tubuhnya.

Beberapa detik kemudian...

Tubuh abangnya jatuh ke dalam jurang.

Jeritan itu hilang ditelan ombak di bawah.

Penjaga waktu berdiri di sampingnya.

“Sudah selesai,” katanya.

***

Sekejap kemudian mereka kembali ke pantai.

Pemuda itu berdiri di batu yang sama tempat ia berkhayal tadi.

Ia tersenyum tipis.

Akhirnya semuanya akan menjadi miliknya.

Ia pulang ke rumah dengan langkah cepat.

Namun saat ia tiba di gerbang rumahnya, ia berhenti.

Rumah itu berubah.

Catnya berbeda.

Mobil yang parkir bukan milik keluarga mereka.

Di halaman berdiri seorang pria asing.

Pria itu memandangnya dengan tatapan dingin.

“Cari siapa?”

Pemuda itu kebingungan.

“Ini rumah saya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Rumahmu?”

Ia menunjuk bangunan itu.

“Aku membeli rumah ini, pabriknya, dan juga kebun kopi di bukit sana.”

“Sudah bertahun-tahun.”

Dunia terasa runtuh.

Kebenaran

Hari-hari berikutnya ia mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan perlahan ia menemukan jawabannya.

Ketika abangnya mati jatuh dari tebing…

Ayahnya hancur.

Kesedihan membuat ayahnya sakit-sakitan.

Bisnis pabrik tidak lagi terurus dengan baik.

Kebun kopi mulai merugi.

Hutang menumpuk.

Untuk membayar pengobatan ayahnya, mereka menjual sebagian tanah.

Lalu sebagian lagi.

Dan sebagian lagi.

Sampai akhirnya…

Semua dijual.

Pabrik.

Kebun kopi.

Rumah mereka.

Ayahnya meninggal.

Ibunya menyusul beberapa tahun kemudian.

Dan ia… hidup sendirian tanpa apa pun.

***

Malam itu ia menangis.

Bukan karena kehilangan warisan.

Tetapi karena menyadari sesuatu yang lebih besar.

Jika ia tidak mengubah masa lalu… mungkin pabrik itu memang tidak pernah menjadi miliknya.

Namun ia masih memiliki ayahnya.

Ibunya.

Dan abangnya.

Keserakahannya telah merampas semuanya.

***

Keesokan harinya ia kembali ke pantai.

Ia duduk di batu besar yang sama.

Menunggu.

Menunggu pria tua itu muncul lagi.

Matahari naik.

Matahari turun.

Namun penjaga waktu tidak pernah datang kembali.

Saat matahari hampir tenggelam, ia akhirnya berdiri.

Baru saat itu ia teringat kata-kata terakhir penjaga waktu.

“Masa lalu hanya memiliki satu pintu.”

“Dan pintu itu hanya dibuka sekali.”

Pemuda itu memandang laut yang luas.

Lalu ia berbisik pelan.

“Tidak ada kesempatan kedua untuk masa lalu…”

Ia menutup matanya.

“…tetapi untuk masa depan…”

Angin laut bertiup pelan.

“…sejuta kali kesempatan masih menunggu.”

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Cerpen Ramadhan 2026, Cerpen Waktu, Cerpen Filosofis, Cerpen Kehidupan, Cerita Tentang Penyesalan, Cerpen Inspiratif, Erwinsyah Putra
×