Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Kala Bersama Si Pembeli Bayangan

Senin, 09 Maret 2026 | 02.39 WIB Last Updated 2026-03-08T22:09:51Z

Cerpen Eksklusif

14 Ramadhan 1447 H / 04-03-2026

Erwinsyah Putra


Kala Bersama Si Pembeli Bayangan


Di sudut sebuah jalan tua di kota itu berdiri sebuah toko kecil dengan papan kayu kusam. Tulisan di papan itu sederhana. “Kami Membeli Bayangan Anda.” Sebagian orang mengira itu lelucon. Sebagian lagi menganggapnya seni aneh. Namun semakin lama, rumor tentang toko itu mulai menyebar. Orang-orang yang keluar dari sana… hidupnya berubah. Ada yang tiba-tiba kaya. Ada yang tiba-tiba terkenal. Ada yang tiba-tiba sukses. Dan tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang terjadi di dalamnya.

***

Raghu pertama kali mendengar cerita itu dari warung kopi di ujung gang.

“Pak Ponga tahu, kan?” kata seseorang. “Yang dulu hampir bangkrut itu?”

“Sekarang dia punya gedung di mana-mana,” orang lain menimpali. “Katanya dia pernah masuk toko bayangan itu.”

Raghu hanya tersenyum waktu itu. Ia mengira itu sekadar cerita kota.

Sampai suatu sore ia melihat sendiri tokonya. Pintunya sempit. Catnya mengelupas. Namun papan kayu itu benar-benar ada. “Kami Membeli Bayangan Anda.”

Entah kenapa, rasa penasaran mendorong Raghu masuk.

***

Di dalam toko suasananya redup. Lampu kuning menggantung rendah dari langit-langit. Dinding dipenuhi cermin tua yang memantulkan bayangan samar.

Ada tiga orang duduk di kursi kayu menunggu. Dan Raghu langsung mengenali mereka.

Orang pertama adalah Pak Ponga. Pengusaha besar di distrik mereka. Dulu ia hampir bangkrut. Sekarang ia memiliki perusahaan, mobil mewah, dan gedung tinggi.

Orang kedua adalah Bu Gowek. Politisi yang sekarang selalu muncul di televisi. Orang-orang menyanjungnya. Pidatonya dipuji di mana-mana.

Orang ketiga adalah Agata. Seorang influencer muda yang sedang viral. Pengikutnya jutaan. Iklan datang dari mana-mana. Bahkan lagu barunya sering diputar di radio.

Raghu berdiri terpaku.

“Pak Ponga?”

Pria itu menoleh sekilas. Namun wajahnya kosong. Seolah-olah Raghu hanyalah orang asing.

Agata sedang memeriksa ponselnya. Bu Gowek duduk tegak dengan senyum yang terlalu rapi.

Tidak ada yang tampak aneh. Namun entah mengapa, Raghu merasa ruangan itu seperti kehilangan sesuatu.

***

Dari balik tirai tua di ujung ruangan, seorang pria keluar. Ia mengenakan jas hitam sederhana. Wajahnya tenang. Matanya dalam.

“Selamat datang,” katanya pelan. “Apakah kau ingin menjual bayanganmu?”

Raghu tertawa kecil. “Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi di sini.”

Pria itu tersenyum tipis. “Tidak ada yang terjadi. Orang-orang hanya meninggalkan sesuatu yang tidak mereka butuhkan.”

Raghu mengerutkan dahi. “Tidak butuhkan? Bayangan?”

Pria itu menunjuk lantai. Bayangan Raghu terlihat jelas di sana. Tenang mengikuti setiap geraknya.

“Bayangan,” kata pria itu, “adalah tempat manusia menyimpan keraguan.”

Raghu memandang Pak Ponga. “Dan mereka menjualnya?”

Pria itu mengangguk.

“Pak Ponga menjual bayangannya karena ia lelah diingatkan bahwa ia pernah miskin.”

“Bu Gowek menjual bayangannya karena ia tidak ingin lagi merasa bersalah.”

“Agata menjual bayangannya karena ia ingin terlihat sempurna.”

Raghu menatap mereka satu per satu. “Dan setelah itu mereka sukses?”

Pria itu menjawab tenang. “Karena bayangan membawa semua beban manusia.”

***

Raghu masih tidak percaya. “Lalu apa yang terjadi setelah mereka menjualnya?”

Pria itu terdiam sebentar. “Awalnya tidak ada yang berubah. Mereka merasa lebih ringan. Lebih percaya diri. Lebih bebas.”

Ia berjalan pelan melewati cermin-cermin tua.

“Namun perlahan mereka mulai kehilangan sesuatu.”

Raghu bertanya pelan. “Apa?”

Pria itu menatap Raghu.

“Mereka tidak bisa lagi mengingat masa kecilnya dengan jelas.”

“Mereka tidak bisa lagi merasa bersalah.”

“Mereka tidak bisa lagi mengenali dirinya sendiri.”

Raghu merasa udara di ruangan itu semakin dingin.

***

Tiba-tiba Raghu menyadari sesuatu.

Ia menatap lantai.

Bayangan Pak Ponga tidak ada.
Bayangan Bu Gowek tidak ada.
Bayangan Agata juga tidak ada.

Namun ada satu hal yang lebih aneh.

Raghu memandang kaki pria penjaga toko itu.

Lantai di bawahnya kosong.

Tidak ada bayangan.

Sama sekali.

Raghu menelan ludah. “Di mana bayanganmu?”

Pria itu tersenyum kecil. Senyum yang sangat lelah.

“Aku menjualnya… sangat lama sekali.”

Ia memandang lantai kosong di bawah kakinya.

“Sejak saat itu… aku tidak pernah benar-benar tahu siapa aku.”

Raghu keluar dari toko itu tanpa berkata apa-apa.

Udara sore terasa aneh di kulitnya. Orang-orang berjalan di trotoar seperti biasa. Sebagian memiliki bayangan. Sebagian tidak.

Bayangan mereka memanjang di bawah cahaya matahari senja.

Raghu berhenti.

Ia menatap bayangannya sendiri di tanah.

Gelap. Diam. Mengikutinya ke mana pun ia pergi.

Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.

Bayangan bukan sekadar sesuatu yang mengikuti manusia.

Bayangan adalah bagian dari manusia yang diam-diam menjaga agar ia tetap menjadi dirinya sendiri.


Keyword: cerpen filosofi, bayangan manusia, cerita reflektif, cerpen kehidupan, cerpen eksklusif

Copyright © 2026 Erwinsyah Putra

×