Cerpen Eksklusif
15 Ramadhan 1447 H / 05-03-2026
Erwinsyah Putra
Diary Fillo: Kursi Pojok di Bus Nomor 7
3 Februari Pukul 06.25 – Halte Pasar Lama
Hari ini hari ketigaku bekerja di cabang baru perusahaan di kota Cendana Timur. Aku dipindahkan dari kantor pusat di Jakarta untuk memasarkan produk baru di wilayah ini. Cabangnya masih kecil. Timnya juga belum banyak.
Karena belum punya kendaraan, aku selalu naik Bus Nomor 7. Bus itu satu-satunya yang lewat langsung ke kantor cabang tanpa harus belok atau transit.
Pagi ini bus sangat penuh. Sesak. Orang berdiri sampai ke lorong.
Tapi ada satu hal yang aneh.
Di bagian belakang bus, kursi pojok dekat jendela, tepat di belakang pintu tengah, kosong. Tidak ada yang duduk di sana.
Aku pikir mungkin orang malas duduk terlalu belakang.
***
10 Februari Pukul 06.32 – Dalam Bus Nomor 7
Sudah seminggu aku naik bus yang sama. Dan aku mulai memperhatikan sesuatu.
Kursi pojok itu selalu kosong. Bahkan ketika bus penuh.
Hari ini ada seorang pria berdiri tepat di depannya. Ia terlihat lelah. Tapi ia tetap berdiri. Tidak duduk. Padahal kursinya kosong.
Aku mulai merasa… ada yang aneh.
***
11 Februari Pukul 09.10 – Kantor Cabang Cendana Timur
Aku mencoba bertanya secara halus pada teman kantor yang juga sering naik bus itu. Namanya Rudi Pratama.
Aku hanya bertanya santai.
“Kenapa ya kursi pojok di bus itu selalu kosong?”
Rudi langsung menatapku sebentar. Lalu ia berkata pelan.
Katanya dulu pernah ada seorang penumpang yang tiba-tiba meninggal di kursi itu. Sejak saat itu orang-orang merasa kursi itu tidak baik.
Aku tertawa kecil.
Tapi entah kenapa, cerita itu membuat bulu kudukku merinding.
***
3 Maret Pukul 06.40 – Dalam Bus
Hari ini aku bertemu Bu Deria. Seorang wanita tua yang sering menjual kacang dan kerupuk di dalam bus.
Tubuhnya kurus. Wajahnya keriput.
Ia duduk di kursi depan sambil mengobrol denganku.
Ketika aku bertanya tentang kursi itu, ia langsung berbisik.
Katanya sudah delapan orang meninggal setelah duduk di kursi itu. Yang terakhir adalah tetangganya. Namanya Pak Sodik. Baru pindah dari Yogya.
Hari Senin pertama ia naik bus, ia terpaksa duduk di kursi itu karena bus penuh. Jumatnya ia meninggal.
“Orang-orang bilang kursi itu kena kutukan,” kata Bu Deria.
Aku tidak tahu harus percaya atau tidak.
***
6 Maret Pukul 07.00 – Dalam Bus
Hari ini Sabtu. Aku sengaja naik bus, tapi bukan untuk bekerja. Aku hanya ingin tahu bus ini sebenarnya melewati daerah mana saja.
Biasanya aku turun tepat di depan kantor.
Hari ini aku duduk di kursi belakang sopir.
Bus melaju melewati kantorku.
Sepuluh menit kemudian bus berhenti di sebuah simpang kecil. Tempatnya agak sepi.
Seorang anak SD berseragam pramuka naik ke bus.
Bus kembali berjalan.
Beberapa detik kemudian aku merasa dadaku berdegup kencang.
Anak itu berjalan ke belakang.
Dan duduk di kursi pojok itu.
Aku ingin menegurnya. Tapi aku takut terlihat aneh.
Aku hanya bisa memperhatikan dari jauh.
Sepanjang perjalanan aku tidak tenang.
***
7 Maret Pukul 20.10 – Rumah Kontrakan
Malam ini aku menelpon Rudi. Aku bertanya nama simpang tempat anak itu naik.
Rudi bilang itu daerah Lorong Genjer.
Ia bertanya kenapa aku ingin tahu.
Aku hanya bilang ingin jalan-jalan hari Minggu nanti.
Padahal sebenarnya aku masih memikirkan anak itu.
***
9 Maret Pukul 10.00 – Kantor
Sudah dua hari aku tidak melihat anak itu lagi.
Pikiranku mulai liar.
Bagaimana kalau cerita kutukan itu benar?
Bagaimana kalau anak itu sakit?
Atau…
Tidak.
Aku mencoba menepis pikiran itu.
Tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
***
9 Maret Pukul 12.35 – Dalam Bus Nomor 7
Saat jam makan siang aku nekat naik bus itu lagi.
Bus sangat penuh. Orang berdiri menutupi lorong.
Aku bahkan tidak bisa melihat kursi pojok itu.
Beberapa menit kemudian satu per satu penumpang turun.
Barulah aku bisa melihatnya.
Anak SD itu masih duduk di sana.
Sehat. Tenang.
Aku akhirnya bertanya pada sopir.
Ia tertawa kecil.
“Itu Lokot, anak angkat saya,” katanya.
Orang-orang takut duduk di kursi itu. Jadi supaya tidak kosong, Lokot saja yang duduk.
Ia sudah duduk di sana sejak kelas satu SD.
Sekarang ia sudah kelas empat.
Aku hanya terdiam.
Jadi semua cerita itu… hanya mitos.
***
23 Maret Pukul 19.40 – Rumah
Hari ini aku menceritakan semuanya kepada Rudi di kantor.
Ia tertawa keras mendengarnya.
Katanya mulai besok ia tidak akan takut lagi duduk di kursi itu.
Katanya lumayan kalau bisa duduk saat bus penuh.
Aku ikut tertawa.
Rasanya lega.
***
27 Maret Pukul 10.15 – Kantor
Hari ini aku mendapat kabar. Rudi dan Fiko — atasan Rudi — dipromosikan untuk kembali ke kantor pusat Jakarta.
Teman-teman membuat acara kecil. Kami makan bersama.
Suasananya hangat.
Rudi bahkan sempat bercanda.
Katanya besok pagi ia akan duduk di kursi kutukan itu.
“Biar sekalian menguji mitos,” katanya.
Kami semua tertawa.
***
27 Maret Pukul 13.10 – Rumah Sakit Cendana Timur
Aku tidak tahu bagaimana menulis ini.
Rudi meninggal.
Ia mengalami kecelakaan tunggal saat menuju bandara. Mobilnya menabrak pembatas jalan.
Aku masih tidak percaya.
Tadi pagi ia masih tertawa di kantor.
Sekarang ia sudah terbujur kaku di ruang jenazah.
Dan entah kenapa… satu pikiran terus berputar di kepalaku.
Bukankah pagi tadi ia bilang akan duduk di kursi itu?
Aku mencoba mengingat lagi.
Lokot sudah duduk di sana selama bertahun-tahun. Ia baik-baik saja.
Jadi mungkin semua ini hanya kebetulan.
Atau mungkin tidak.
Aku benar-benar tidak tahu.
Dan sejak hari itu… setiap kali aku mengingat kursi pojok di Bus Nomor 7, aku selalu bertanya dalam hati:
apakah kutukan itu benar-benar ada, atau hanya kebetulan yang terlalu menakutkan untuk dijelaskan.
Keyword: cerpen misteri, kursi kutukan, cerita bus kota, diary cerita pendek, cerpen urban
Copyright © 2026 Erwinsyah Putra