Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Biskuit Pembuka Roti

Jumat, 13 Maret 2026 | 14.32 WIB Last Updated 2026-03-13T07:32:26Z
Cerpen Biskuit Pembuka Roti Karya Erwinsyah Putra

Biskuit Pembuka Roti

Oleh Erwinsyah Putra

Hujan turun deras di jendela gedung pusat keuangan PT Nusantara Energi. Di dalam ruangan berlampu temaram, Cahyono Purnomo, Komisaris Pertama perusahaan itu, menatap layar laptopnya dengan dahi berkerut. Laporan keuangan dari Adam Afsana menunjukkan kejanggalan yang sulit diabaikan.

Angka-angka itu seperti bayangan yang tak seharusnya ada.

"Ini bukan sekadar kesalahan pembukuan biasa," gumamnya.

Tak lama, pintu ruangannya diketuk. Sawitri Adya, kepala bidang dana keluar, masuk dengan ekspresi tegang.

“Pak Cahyono, saya baru saja menemukan dokumen transaksi mencurigakan. Ada dana proyek senilai triliunan rupiah yang mengalir ke perusahaan yang… tidak ada,” katanya sambil meletakkan berkas di meja.

Cahyono membuka berkas itu. Nama-nama penerima dana tersebut tidak asing baginya. Salah satunya adalah Indra Setyowan, Direktur Utama PT Nusantara Energi—atasannya sendiri.

“Indra…” gumam Cahyono, kecewa.

Lebih mengejutkan lagi, di balik skema ini ada nama lain yang ikut bermain: Randa Avoseralla, salah satu petinggi BPK.

***

Adam Afsana duduk di meja kerjanya, menelusuri transaksi mencurigakan itu lebih dalam. Malam sebelumnya, ia menerima email anonim berisi dokumen yang menunjukkan dana proyek energi terbarukan senilai Rp 4,7 triliun tidak pernah digunakan sesuai rencana. Dana itu, lewat serangkaian perusahaan cangkang, mengalir ke rekening pribadi Indra dan beberapa oknum di BPK.

“Randa Avoseralla…” Adam bergumam, mengetik nama itu di mesin pencari internal.

Randa dikenal sebagai pejabat yang lihai, wajahnya sering muncul di media berbicara tentang transparansi dan efisiensi anggaran. Tapi kini Adam tahu, di balik itu semua, ia adalah dalang dari permainan kotor ini.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal.

“Jangan terlalu dalam menggali, Adam. Kamu tahu konsekuensinya.” Klik.

Adam menggenggam ponselnya erat. Ia tahu, semakin dalam ia menggali, semakin besar bahaya yang mengintainya.

***

Keesokan paginya, rapat direksi berlangsung di ruang utama. Cahyono duduk di ujung meja, menatap Indra Setyowan yang berbicara dengan percaya diri.

“Kita harus terus melanjutkan proyek ini dengan fokus. Keuangan perusahaan dalam kondisi baik, dan…”

Cahyono berdehem, meletakkan berkas di meja.

“Kondisi baik, Pak Indra? Saya rasa kita harus bicara tentang transfer dana sebesar Rp 4,7 triliun yang lenyap entah ke mana.”

Ruang rapat seketika sunyi. Indra menegang, tapi tersenyum cepat. "Apa maksud Anda, Pak Komisaris?"

Cahyono membuka berkas berikutnya. "Ini dokumen dari Bidang Dana Keluar, bukti transaksi ke perusahaan fiktif. Dan ini laporan dari Adam Afsana. Semua data mencurigakan ini menuju ke satu nama utama: Anda."

Indra tertawa kecil, matanya penuh ancaman. "Berhati-hatilah, Pak Cahyono. Anda menuduh tanpa bukti kuat."

Sawitri, yang sedari tadi diam, berbicara. “Kami punya lebih dari cukup bukti. Dan kami sudah menghubungi KPK.”

***

Tengah malam, Adam dalam perjalanan pulang menyadari sebuah mobil hitam mengikuti dari kejauhan. Ia mempercepat langkahnya menuju apartemen, tapi langkah kaki di belakang terdengar semakin cepat.

“Jangan melawan. Hentikan, atau nyawamu jadi taruhannya.”

Adam berbalik, dan dalam sekejap, segalanya menjadi gelap.

***

Tiga minggu kemudian, berita penangkapan Indra Setyowan dan Randa Avoseralla memenuhi media nasional. Adam, yang selamat dari upaya penculikan, masih menjalani perawatan, tetapi tersenyum puas.

Di depan kantornya, Cahyono dan Sawitri menatap langit pagi. “Masih banyak pertarungan yang harus kita menangkan,” ujar Cahyono.

Sawitri mengangguk. “Tapi hari ini, kita sudah selangkah lebih dekat ke keadilan.”

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Biskuit Pembuka Roti, cerpen dramatis Indonesia, korupsi dan keadilan, PT Nusantara Energi, karya Erwinsyah Putra
×