Milad HMI ke-79: Antara Refleksi Perjuangan dan Krisis Intelektual Organik
Setiap 5 Februari, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali dirayakan. Spanduk dikibarkan, pidato dilantunkan, dan sejarah diulang dengan nada heroik. Namun Milad ke-79 HMI semestinya bukan sekadar perayaan usia, melainkan sidang batin: sejauh mana HMI masih setia pada alasan keberadaannya.
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) dirumuskan sebagai fondasi epistemik dan etik, alat baca realitas, bukan dekorasi pidato. Namun di usia 79, NDP lebih sering terdengar dalam seremoni dibanding dalam sikap politik kader. Ia dihafal, tetapi jarang mengganggu kenyamanan.
Antonio Gramsci mengingatkan bahwa organisasi kader hanya bermakna jika mampu melahirkan intelektual organik—mereka yang berpihak pada yang tertindas dan berani melawan hegemoni. Tetapi perayaan Milad sering berlangsung di tengah kelangkaan keberanian tersebut. Banyak yang cerdas, sedikit yang konsisten.
Pierre Bourdieu melihat arena sosial sebagai ruang pertarungan modal simbolik. Dalam konteks Milad, atribut kader dan jejaring alumni kerap dipertontonkan sebagai simbol prestise, bukan sebagai alat perjuangan. Identitas menjadi mata uang sosial, bukan komitmen pembebasan.
Mohammed Arkoun mengkritik agama yang dibekukan menjadi aman bagi status quo. Dalam banyak perayaan, Islam tampil rapi dan sopan, tetapi jarang hadir sebagai kekuatan kritik terhadap ketimpangan struktural. Kesalehan menjadi simbol, bukan praksis.
Milad ke-79 HMI seharusnya menjadi titik uji raison d’être organisasi: apakah masih mencetak insan cita yang progresif, atau sekadar menyiapkan kader yang adaptif terhadap kekuasaan. Jika Milad hanya diisi nostalgia dan pujian diri, maka usia hanyalah angka.
Pada 5 Februari 2026, HMI tidak sedang bertambah tua, tetapi sedang diminta memilih: tetap menjadi gerakan kesadaran yang gelisah, atau berubah menjadi monumen yang sopan dan tidak lagi ditakuti oleh ketidakadilan.
(IKS)