Fillo-Magz - Padangsidimpuan - Momentum Milad Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ke-79 yang
bertepatan dengan bulan suci Ramadhan seharusnya tidak dimaknai sebatas
seremoni atau nostalgia sejarah. Di usia yang kian matang, HMI dituntut
menghadirkan kontribusi nyata yang relevan dengan kebutuhan zaman. Ramadhan
menjadi ruang strategis untuk mengisi arti Milad tersebut—bukan hanya melalui
penguatan spiritual kader, tetapi juga melalui gerakan sosial dan ekologis yang
memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Sebagai organisasi kader, HMI
memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan Ramadhan sebagai bulan
produktif, transformatif, dan berdampak. Berikut beberapa tips aktivitas
Ramadhan yang dapat digerakkan kader HMI agar lebih bermakna dan kontributif.
1. Puasa Ramadhan: Dari Ritual Personal ke Kesadaran Sosial
Puasa Ramadhan tidak berhenti pada menahan lapar dan dahaga. Nilai utama puasa
adalah pembentukan karakter: kejujuran, empati, dan pengendalian diri. Kader
HMI perlu menjadikan puasa sebagai fondasi etika sosial, terutama dalam
bersikap di ruang publik. Contoh praktiknya, kader dapat menginisiasi diskusi
ringan selepas berbuka mengenai isu kemiskinan, ketimpangan sosial, atau krisis
lingkungan yang dirasakan langsung masyarakat sekitar. Puasa menjadi pintu
masuk untuk membangun kepekaan sosial, bukan sekadar rutinitas tahunan.
2. Tarawih dan Tadarus: Menghidupkan Spirit Intelektual
Ramadhan Ibadah Ramadhan seperti tarawih dan tadarus Al-Qur’an memiliki potensi
besar untuk dikembangkan secara lebih substantif. Selain berjamaah, kader HMI
dapat memanfaatkan momen tadarus sebagai ruang refleksi nilai. Contohnya,
tadarus tematik dengan mengangkat ayat-ayat tentang keadilan sosial, amanah
kepemimpinan, atau larangan merusak alam. Setelah tadarus, dilanjutkan diskusi
singkat yang kontekstual dengan realitas hari ini. Pendekatan ini membuat
Al-Qur’an hadir sebagai sumber inspirasi perubahan, bukan sekadar bacaan
ritual.
3. Penghijauan Selama 29 Hari Ramadhan Isu lingkungan
menjadi tantangan global yang nyata. Ramadhan dapat dimanfaatkan kader HMI
untuk menumbuhkan kesadaran ekologis melalui aktivitas penghijauan yang
berkelanjutan. Contoh kegiatannya, menanam satu pohon atau tanaman produktif
setiap hari atau setiap pekan selama Ramadhan di sekitar masjid, kampus, atau
permukiman warga. Tidak berhenti pada penanaman, kader juga memastikan
perawatan tanaman tersebut hingga pasca-Ramadhan. Aktivitas ini menanamkan
nilai bahwa merawat alam adalah bagian dari ibadah.
4. Aksi Kebersihan Lingkungan: Iman yang Tampak di Ruang
Publik Kebersihan merupakan ajaran mendasar dalam Islam. Kader HMI dapat
menerjemahkan nilai ini melalui aksi nyata yang sederhana namun berdampak.
Misalnya, kerja bakti membersihkan masjid, selokan, atau lingkungan pemukiman menjelang
waktu berbuka atau setelah salat Subuh. Selain itu, kampanye pengurangan sampah
plastik saat buka puasa bersama juga menjadi langkah kecil yang relevan dengan
isu lingkungan perkotaan.
5. Edukasi PHBS bagi Remaja Muslim Ramadhan sering kali
diwarnai pola hidup yang kurang sehat, terutama di kalangan remaja. Kader HMI
dapat berperan sebagai agen edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Contohnya, mengadakan kelas singkat atau konten edukatif di media sosial
tentang pola sahur dan berbuka yang sehat, pentingnya menjaga kebersihan diri
saat puasa, serta kesehatan mental selama Ramadhan. Edukasi ini membantu remaja
menjalani Ramadhan dengan lebih berkualitas.
6. Kajian Islam dan Lingkungan: Menegaskan Peran Khalifah
Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, dengan tanggung jawab
menjaga keseimbangan alam. Kajian Ramadhan perlu mengangkat tema ini secara
konsisten. Contoh konkret, kajian ba’da tarawih yang membahas larangan merusak
lingkungan, etika pengelolaan sumber daya alam, hingga relevansinya dengan
krisis iklim saat ini. Kajian semacam ini menegaskan bahwa persoalan lingkungan
bukan isu pinggiran, melainkan bagian dari tanggung jawab keimanan.
Milad HMI ke-79 adalah momentum refleksi sekaligus proyeksi.
Ramadhan memberi ruang ideal bagi kader HMI untuk membuktikan bahwa organisasi
ini tetap relevan dan solutif. Melalui integrasi ibadah, intelektualitas, dan
aksi sosial, Ramadhan dapat menjadi medium pengabdian nyata bagi umat dan
lingkungan. Dengan demikian, mengisi Milad HMI bukan sekadar mengenang sejarah,
tetapi menghidupkan nilai perjuangan melalui kerja nyata yang dirasakan
manfaatnya oleh masyarakat luas.
Penulis adalah Korps Pelopor LEPPAMI HMI Cabang
Padangsidimpuan.
