Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Teras Lantai Tiga

Sabtu, 28 Februari 2026 | 22.15 WIB Last Updated 2026-03-04T16:47:19Z
Teras Lantai Tiga | Cerpen Ramadhan Erwinsyah Putra


Cerpen Eksklusif

10 Ramadhan 1447 H - 28-02-2026
Erwinsyah Putra


Teras Lantai Tiga


Angin di teras lantai tiga Gedung Fakultas Universitas Sutan Syaheer berembus pelan, membawa bau cat dinding yang mulai mengelupas.

Mahasiswa lalu-lalang di koridor, tak ada yang menyangka siang itu akan berubah menjadi sunyi yang membekukan.

Reihan berdiri lebih dulu. Matanya sembab. Rambutnya berantakan seperti tiga malam terakhir tak pernah benar-benar tidur.

Tiga malam.

Tiga malam ia melihat seorang pria masuk ke kos Verra. Tiga malam pria itu tak keluar sampai pagi. Tiga malam pikirannya menciptakan neraka.

Langkah Verra terdengar dari tangga. Ia berhenti ketika melihat Reihan.

“Ngapain kamu di sini?”

Suara Verra datar, lelah.

Reihan tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip retakan.

“Kamu tanya aku ngapain? Harusnya aku yang tanya.”

Verra menghela napas panjang.

“Kita udah bahas ini lewat chat.”

“Chat? Dua hari kamu hilang. Terus tiba-tiba ada laki-laki masuk kos kamu.”

Verra menahan sabar.

“Itu adikku.”

“Jangan bohong!”

“Itu adikku, Reihan! Dia baru datang dari kampung. Mau melamar kerja di swalayan dekat kos. Dia belum punya uang buat sewa kamar. Dia numpang dulu sampai gajian.”

Reihan menggeleng pelan.

“Kamu pikir aku bodoh?”

Verra menatapnya tajam.

“Kamu pikir dunia cuma muter di sekitar cemburu kamu?”

Angin berdesir lebih kencang.

Reihan berbisik, hampir tak terdengar.

“Aku cuma takut kehilangan.”

“Takut itu gak boleh berubah jadi tuduhan.”

“Kalau kamu gak percaya lagi sama aku, selesai. Kita selesai.”

Kalimat itu seperti pintu yang dibanting keras di dalam kepalanya.

Selesai.

Reihan merogoh tasnya.

Tidak ada yang langsung menyadari apa yang ia keluarkan.

Verra mundur satu langkah.

“Reihan… jangan.”

Ayunan pertama membuat udara seperti terbelah.

Verra terhuyung. Tangannya menyentuh kening. Di sela jemarinya, cairan merah mengalir perlahan.

Jeritan pecah di koridor.

Verra mencoba berlari ke arah tangga.

Ayunan berikutnya datang cepat.

Ia tersandung. Lututnya menghantam lantai.

“Tolong…”

Suaranya melemah.

Angin membawa bau besi yang samar.

Dan siang itu, di bawah langit yang tetap cerah, teras lantai tiga menjadi saksi bagaimana cemburu yang tak dikendalikan bisa berubah menjadi luka yang tak bisa ditarik kembali.

Mahasiswa berteriak memanggil satpam.

Tidak ada yang berani mendekat.

Ketika satpam datang dan tangan Reihan diborgol, matanya sudah kosong.

Seolah ia baru sadar bahwa satu detik amarah bisa menghapus bertahun-tahun kenangan.

Dan cairan merah itu, yang awalnya hanya setitik, kini menjadi batas yang memisahkan masa lalu dan penyesalan.


© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.


Keywords: Cerpen Teras Lantai Tiga, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen kampus, cerpen tragedi, cerpen psikologis, cerpen cemburu.

×