Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Lampu Terlambat Menyala

Kamis, 26 Februari 2026 | 18.25 WIB Last Updated 2026-03-04T16:57:13Z
Lampu Terlambat Menyala | Cerpen Ramadhan Erwinsyah Putra

Cerpen Eksklusif

8 Ramadhan 1447 H / 26-02-2026
Erwinsyah Putra


Lampu jalan desa dalam cerpen Lampu Terlambat Menyala

Lampu Terlambat Menyala


Sudah lebih dari setahun lampu jalan di ujung gang itu mati. Tiangnya berdiri tegak, tapi bohlamnya gelap. Seperti janji yang pernah dinyalakan lalu dibiarkan padam.

Malam itu, Pak Burju datang ke rumah Anggota DPRD desa mereka, Pak Rojan. Rumahnya terang. Halamannya luas. Lampu taman menyala berderet. Pak Burju berdiri dengan sandal jepit dan kemeja lusuh.

“Pak, cuma lampu,” katanya pelan tapi tegas. “Bukan jembatan. Bukan stadion. Tidak mesti ada anggaran daerah besar.”

Pak Rojan menatapnya dari kursi rotan, kesal. “Pak Burju, saya ini urus MBG, reses, even kecamatan. Banyak yang lebih vital.”

“Vital bagi siapa, Pak?” tanya Burju.

Suasana mengeras.

“Satu lampu mati tidak menghentikan dunia.”

Pak Burju menatap lurus. “Tidak. Tapi bisa menghentikan nyawa.”

Pak Rojan tertawa pendek. “Bapak terlalu dramatis.”

Burju pamit tanpa menunduk.

Dua hari kemudian, sekitar pukul setengah sepuluh malam, suara benturan keras memecah gang itu. Di titik paling gelap. Tepat di bawah lampu yang mati.

Motor tergeletak. Dua gadis terkapar.

Pak Burju yang pertama keluar rumah. Putranya, Damar—kelas dua SMP—ikut berlari membawa senter kecil.

“Cepat, bantu angkat!”

Sinar senter menyapu wajah salah satu korban. Darah. Memar. Napas tersengal.

“Ini… ini anak Pak Kepala Desa,” bisik Damar gemetar.

Yang satu lagi tak bergerak.

Mereka tak sempat berpikir panjang. Keduanya dibawa ke rumah sakit. Anak perempuan Kepala Desa selamat. Kakinya patah. Wajahnya penuh luka, diperban menyeluruh. Ia belum bisa bicara. Yang satu lagi masih belum diketahui keluarganya.

Sementara itu, lewat pukul satu dini hari, Pak Rojan mulai gelisah. Putrinya belum pulang dari tarawih. Telepon tak diangkat.

Ia bangkit dari sofa. “Hubungi protokol. Cari sekarang.”

Suasana rumah berubah panik. Mobil keluar masuk. Telepon berdering tanpa jeda.

Pukul tiga pagi, kabar itu datang. Sebuah motor ditemukan di ujung gang desa, di dekat tiang lampu yang sudah setahun mati. Satu korban selamat. Satu korban meninggal di tempat.

Nama korban yang meninggal membuat tangan Pak Rojan gemetar. Itu putrinya.

Pagi harinya, desa sunyi. Baru diketahui—dua gadis itu pulang tarawih bersama. Boncengan. Tertawa, kata saksi terakhir yang melihat. Jalan gelap. Tikungan sempit. Motor oleng. Tabrakan tunggal. Di bawah lampu yang tak pernah menyala.

Pak Burju berdiri jauh dari rumah duka. Damar di sampingnya.

Pak Rojan melihatnya. Untuk pertama kalinya, tidak ada kursi rotan, tidak ada jabatan, tidak ada nada tinggi. Hanya seorang ayah yang kehilangan.

Pak Burju mendekat perlahan. “Pak…” suaranya serak, “cuma lampu.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti sindiran lagi. Terdengar seperti penyesalan yang datang terlambat.

Pak Rojan tidak menjawab. Ia tidak mampu.

Seminggu kemudian, warga patungan. Tidak menunggu anggaran. Tidak menunggu reses. Tiang itu diganti. Kabel diperbarui. Bohlam dipasang lebih terang dari sebelumnya.

Malam pertama lampu menyala, gang itu seperti siang. Orang-orang berdiri diam memandangnya.

Pak Rojan menutup semua kunjungan dan pelayatan hampir sebulan penuh. Ia jarang keluar rumah. Jabatan tetap melekat di pundaknya, tapi suaranya hilang dari forum-forum.

Lampu itu kini menyala setiap malam. Tapi bagi Pak Rojan, terang itu selalu terasa seperti sorot yang menuduh.

Karena kadang, yang paling tidak vital di meja rapat justru yang paling menentukan di jalan pulang.


© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.


Keywords: Cerpen Lampu Terlambat Menyala, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen realisme sosial, cerpen kritik sosial, cerpen desa, cerpen reflektif.

×