Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Kembalikan Clara

Sabtu, 28 Februari 2026 | 21.14 WIB Last Updated 2026-03-04T16:46:17Z
Clara | Cerpen Ramadhan Erwinsyah Putra



Kembalikan Clara


Cerpen Eksklusif

9 Ramadhan 1447 H - 27-02-2026
Erwinsyah Putra


Sudah tujuh hari Clara hilang.

Rumah itu terasa terlalu rapi. Tidak ada bulu putih di sofa. Tidak ada mangkuk kecil yang tergeser. Tidak ada suara gesekan kuku halus di lantai.

Jabut berdiri di teras, menatap rumah Adurat di seberang gang.

Orang-orang menyebutnya Agen Dunia Akhirat. ADURAT. Karena apa saja bisa ia jual: HP, gas elpiji, burung, barang antik, hewan. Semua lewat tangannya.

Clara sering meloncat ke pagar rumah itu.

Harusnya sejak dulu aku larang, pikir Jabut. Harusnya aku jaga seperti anak sendiri.

Anak sendiri.

Ia menghela napas panjang.

Tiba-tiba sebuah motor polisi berhenti di depan rumah Adurat. Polisi itu turun, mencatat sesuatu di pagar.

Jabut mendekat dengan langkah cepat.

“Ada apa ya, Pak?” tanyanya hati-hati.

Polisi itu menoleh singkat.

“Ada laporan penjualan burung kakaktua. Diduga ilegal.”

Jantung Jabut berdegup keras.

Penjualan hewan.

Ia menelan ludah.

“Pak… kalau misalnya seseorang sering jual beli hewan… bisa juga menjual yang lain?”

Polisi itu mengernyit.

“Maksud Bapak?”

Jabut menarik napas dalam-dalam.

“Anak saya hilang, Pak. Sudah seminggu. Terakhir sering main ke rumah itu.”

Ekspresi polisi berubah serius.

“Anak hilang?”

“Iya.”

“Sudah lapor?”

“Belum.”

Polisi itu langsung berdiri tegak.

“Kita ke kantor sekarang. Jangan ditunda. Ini bisa masuk dugaan perdagangan orang.”

Kata-kata itu membuat dada Jabut panas sekaligus lega.

Tanpa menjelaskan lebih jauh, ia sudah duduk di boncengan motor polisi, berpegangan kaku.


***

Di kantor polisi, suasana lebih formal. Meja kayu. Kursi plastik. Bau kopi dan kertas.

Seorang penyidik membuka buku laporan.

“Nama anak?”

“Clara.”

Pulpen bergerak.

“Umur?”

“Dua tahun.”

“Terakhir terlihat?”

“Sekitar rumah Adurat. Sering main ke sana.”

Penyidik mengangguk.

“Ciri-ciri khusus?”

Jabut menegakkan badan. Wajahnya hidup oleh ingatan.

“Bulu putih bersih. Mata biru. Kalau dipanggil langsung menoleh. Suka ikan rebus.”

Pulpen berhenti.

Penyidik mengangkat kepala perlahan.

“Maaf, Bapak bilang… bulu?”

“Iya. Anggora. Putih.”

Ruangan mendadak hening.

Beberapa polisi yang lewat berhenti.

Penyidik menatapnya lekat.

“Pak, ini anak kandung Bapak?”

“Ya Clara anak saya.”

“Maksud saya… manusia?”

Jabut mengerutkan kening.

“Dia keluarga saya.”

Suasana berubah.

“Pak,” suara penyidik mulai keras, “yang hilang ini manusia atau hewan?”

Jabut terdiam sesaat.

“Kucing.”

Kata itu jatuh berat.

Meja digedor.

“Pak! Kami kira ini kasus anak hilang!”

Seorang polisi berdiri dengan wajah merah.

“Tadi Anda bilang perdagangan orang!”

Polisi yang membonceng Jabut menatap tajam.

“Saya pikir anak manusia!”

Suara-suara meninggi.

“Ini kantor polisi, Pak!”

“Kenapa tidak bilang dari awal?!”

Jabut berdiri kaku. Wajahnya memerah.

“Dia bukan cuma kucing,” katanya dengan suara pecah. “Dia tinggal sama saya. Dia tidur di samping saya.”

“Semua orang sayang hewan!” bentak seorang polisi.

“Tapi jangan bikin laporan kriminal!”

Penyidik menghela napas panjang.

“Pak, kalau kucing hilang, buat selebaran. Tanyakan ke tetangga. Jangan tuduh orang tanpa dasar.”

Jabut ingin membalas, tapi kata-kata seperti tersangkut di tenggorokan.

Di kepalanya terlintas Clara duduk di jendela. Clara mengeong kecil saat ia pulang kerja. Clara mengacak kertas di meja.

Seminggu tanpa suara itu.

Ia mengambil map kosongnya.

“Saya cuma ingin dia kembali,” katanya pelan.

Tak ada yang menjawab.

***

Jabut melangkah keluar kantor dengan wajah tertunduk.

Dari dalam masih terdengar gerutu kesal.

“Buang waktu saja.”

“Sudah tegang kirain kasus besar.”

Matahari sore terasa terlalu terang.

Ia berhenti sejenak di halaman, menatap jalan.

Kalau Clara bukan anak baginya, lalu siapa lagi yang akan menyambutnya pulang?

Ia berjalan pelan menuju rumah.

Dan rumah itu tetap sunyi.


© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.


Keywords: Cerpen Clara, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen kucing hilang, cerpen reflektif, cerpen sosial, cerpen twist ending.

×