Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerita dari Bu Hakok, Tukang Catering yang Booming

Kamis, 26 Februari 2026 | 03.17 WIB Last Updated 2026-02-26T20:23:55Z

FilloNews - Artikel

Padangsidimpuan - 25 Februari 2026
Kontributor Fillo


Ilustrasi dapur produksi catering

Dapur Produksi Catering: Rahasia 2.500 Porsi Per Hari Ala Bu Hakok


FilloNews - Artikel - Padangsidimpuan - Angka Rp 20 juta per hari untuk menyiapkan 2.500 porsi makan sering terdengar mengejutkan bagi banyak orang. Sekilas memang terasa besar, tapi bagi pelaku dapur produksi, hitungannya justru berbeda.

Hasanah Khoiriyah — akrab disapa Bu Hakok — tertawa kecil ketika hal itu ditanyakan. Perempuan yang merintis usaha catering sejak masih gadis ini mengaku sudah terlalu sering mendengar keheranan semacam itu. “Biasanya orang membayangkan harga sepiring di warung,” ujarnya santai.

Padahal, menurutnya, dapur catering bekerja dengan cara pikir lain. Yang dihitung bukan harga satu porsi seperti di restoran, melainkan bahan mentah, hasil masakan, dan jumlah produksi. “Kalau sudah bicara ribuan porsi, logikanya bukan lagi eceran.”

Untuk nasi saja, misalnya, Bu Hakok menjelaskan bahwa kebutuhan beras untuk 2.500 porsi moderat ada di kisaran 250 kilogram. Banyak orang kaget mendengarnya, tetapi ia menegaskan bahwa satu kilogram beras bisa menjadi beberapa porsi setelah dimasak. “Dan dapur tidak pernah beli pas-pasan. Selalu ada lebihnya, itu biasa.”

Hal serupa berlaku pada lauk. Dalam pesanan besar, ayam tidak harus disajikan dalam potongan besar seperti di restoran. Ayam bisa diolah menjadi suwir atau masakan berbumbu. Untuk jumlah ribuan porsi, kisaran 180 hingga 200 kilogram ayam sudah umum digunakan. Ia menambahkan bahwa dapur sudah terbiasa memperhitungkan penyusutan saat dimasak. “Sudah ada hitungannya, bukan kira-kira.”

Soal sayur, Bu Hakok justru menyebutnya sebagai komponen penting dalam produksi massal. Sayuran seperti kol, sawi, atau kangkung dinilai efisien karena harganya relatif stabil dan volumenya besar. Untuk ribuan porsi, kebutuhan sayur bisa mencapai lebih dari seratus kilogram. “Biasanya malah ada sisa, bukan kurang.”

Pilihan buah pun bukan tanpa alasan. Pisang sering menjadi favorit karena mudah didapat, harganya cenderung stabil, dan tidak merepotkan saat distribusi. Dalam praktiknya, dapur sering membeli lebih banyak dari jumlah porsi. “Kalau target 2.500, bisa saja beli 2.700 buah. Lebih itu normal.”

Ia juga menyinggung minuman kemasan seperti susu UHT dan air mineral cup. Barang-barang ini dibeli dalam dus atau karton, bukan per buah. Karena itu, jumlah akhirnya hampir selalu melebihi kebutuhan tepat porsi. “Kalau satu dus isi 48, ya tidak mungkin beli setengah dus,” katanya sambil tersenyum.

Menurut Bu Hakok, kelebihan bahan bukanlah tanda pemborosan. Dalam dapur produksi, cadangan justru penting agar tidak terjadi kekurangan saat penyajian. Selain itu, sisa bahan seperti minyak, bumbu, atau gas biasanya masih bisa dipakai untuk produksi berikutnya. “Efisiensi dapur besar itu terasa antar-hari, bukan satu hari saja.”

Ketika ditanya soal keuntungan, Bu Hakok menjawab tanpa ragu. Dalam satu kali pesanan besar seperti 2.500 porsi, margin keuntungan menurutnya harus realistis. Tidak terlalu tipis, tapi juga tidak berlebihan. Ia menjelaskan bahwa keuntungan catering bukan semata dari selisih harga bahan, melainkan dari kemampuan mengatur biaya produksi secara rapi. “Kalau semua terkontrol, untung itu pasti ada. Itu yang bikin usaha bisa jalan terus.”

Ia menambahkan, dalam pesanan volume besar, dapur justru lebih mudah mencapai efisiensi. Tenaga kerja, bahan, dan waktu produksi berjalan dalam satu sistem. “Makanya order besar sering terasa lebih ringan secara biaya dibanding pesanan kecil tapi berulang.”

Pembicaraan kemudian menyinggung program makan anak sekolah. Jika suatu hari diminta menyiapkan menu dengan anggaran yang jauh lebih kecil, misalnya Rp 5.000 per porsi, apakah ia sanggup? Bu Hakok kembali tersenyum. Jawabannya singkat, tetapi tegas. “Ya, bisa saja.”

Menurutnya, kunci utamanya ada pada ukuran porsi dan komposisi bahan. Porsi anak-anak, katanya, secara alami memang lebih kecil dibanding orang dewasa. “Kalau porsi dewasa penuh, porsi anak itu kira-kira setengahnya. Logikanya tetap masuk.”

Dalam dapur produksi, lanjutnya, penyesuaian semacam itu bukan hal aneh. Struktur menu bisa diatur tanpa harus mengorbankan fungsi dasar makan. “Selama hitungannya benar, tetap ada untung. Dapur besar terbiasa bekerja dengan skala.”

Baginya, diskusi soal anggaran makan sering kali terjebak pada persepsi harga, bukan cara produksi. Padahal, dunia catering sudah lama hidup dalam logika efisiensi dan penyesuaian volume. “Yang penting cukup, layak, dan bisa diproduksi stabil.”

Pada akhirnya, ada satu hal yang menurut Bu Hakok sering luput dari perbincangan publik. Makan layak dan bergizi, katanya, tidak selalu identik dengan biaya mahal. Dalam dapur produksi, kuncinya ada pada komposisi bahan dan cara mengatur volume. Efisiensi, ia menegaskan, lahir dari skala, bukan dari persepsi harga sepiring.


© 2026 Hasanah Khoiriyah. Dilarang menyalin tanpa izin.


Keywords: Dapur Produksi, Catering, Bu Hakok, Padangsidimpuan, Efisiensi Produksi, 2.500 Porsi

×