Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Darah Intan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 01.04 WIB Last Updated 2026-03-13T18:04:17Z
Darah Intan | Cerpen Tragis Karya Erwinsyah Putra
Cerpen Darah Intan Karya Erwinsyah Putra

Darah Intan

Oleh Erwinsyah Putra

Malam itu, angin berembus lembut membawa aroma tanah basah selepas hujan.

Cahaya lampu minyak menggantung di tengah ruangan.

Panda duduk bersila di atas tikar pandan.

Umak, Ayah, dan Laung duduk dengan wajah tegang.

Pembicaraan yang selama ini dihindari akhirnya tak bisa dielakkan.

"Kenapa kalian menolak aku menikahi Intan?"

"Bukan kami tak mau, Nak… ada sesuatu yang harus kau ketahui."

"Sesuatu apa?"

"Apa karena dia sudah menikah dengan Laung?"

"Intan itu ibotomu, Mang."

"Aku Siregar, sedangkan Intan boru Lubis."

"Kenapa disebut iboto?"

"Intan itu ibotomu, anakku!"

Laung mengangkat wajahnya.

"Aku tidak pernah ingin menikahi Intan…"

"Apa maksudmu?"

"Aku hanya menurut."

"Aku dijebak dalam kebohongan yang sama sepertimu."

Panda menggeram.

"Kau tetap tidur di ranjang bersamanya!"

"Kau tetap memilikinya!"

"Aku hanya bisa menahan diri melihat wanita yang kucintai menyandang namamu!"

Intan berlari masuk.

"Cukup, Panda! Hentikan!"

"Jangan salahkan Laung!"

"Kau masih membelanya, Intan?"

"Aku tahu kau mencintaiku!"

"Kenapa kau tetap di sisinya?"

"Karena dia suamiku, Panda…"

"Hatiku tetap milikmu… tapi aku tak bisa meninggalkannya."

Panda menggenggam bahu Intan.

"Jadi aku harus menerima kenyataan itu?!"

Laung menarik Panda menjauh.

"Jangan sentuh dia seperti itu!"

Panda meraih pisau.

"Kau merenggut segalanya dariku!"

"Panda, hentikan!"

Pisau menyayat lengan Intan.

Darah merembes.

"INTAN!"

Ayah mengangkat tubuhnya.

Mereka berlari ke rumah sakit.

Laung berbisik lirih.

"Karena kau dan dia adalah saudara sepersusuan…"

Panda terhuyung.

Semua kemarahan sirna.

Tinggal perih yang lebih dalam dari luka mana pun.

Mereka pergi.

Panda tetap duduk.

Angin kembali berembus.

Ia menatap pisau di tangannya.

Jleeeeb.

Logam itu menembus perutnya.

Ia tidak menangis.

Tidak meraung.

Ia hanya merasakan hangat darah mengalir.

Pandangannya kabur.

Ia menatap langit di luar jendela.

Bintang terasa jauh dan tak terjangkau.

Seperti perasaannya pada Intan.

Kini ia tahu.

Ia harus melepaskan.

Matanya tertutup.

Napasnya terputus.

Malam semakin larut.

Dan kesunyian menjadi saksi terakhirnya.

Iboto = Saudara Perempuan/ Kakak/ Adik. Dalam Adat Angkola, seorang pria yang memiliki saudara perempuan atau sebaliknya disebut Iboto. Iboto tidak boleh menikah.
© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Darah Intan, cerpen cinta tragis, saudara sepersusuan, konflik keluarga, cerpen dramatis Indonesia, karya Erwinsyah Putra
×