Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Tampak Tumpuk Tampuk

Sabtu, 14 Maret 2026 | 23.58 WIB Last Updated 2026-03-14T16:58:04Z
Cerpen Tampak Tumpuk Tampuk Karya Erwinsyah Putra

Tampak Tumpuk Tampuk

Oleh Erwinsyah Putra

Di gudang tua yang sepi dan penuh debu, tabung-tabung gas berdiri diam, tertata acak. Lampu neon berkedip, menyinari logam yang berkilau samar. Di antara deretan tabung itu, mereka berbicara—bukan dengan kata manusia, tapi dengan suara yang terasa hidup.

"Aku melihat truk-truk datang tiap hari," suara Gas Pabrik bergema. "Bukan ke rumah, bukan ke warung. Tapi ke sini, bertumpuk, dilupakan."

Gas Oplosan menambahkan dengan nada sinis, "Dan manusia? Mereka menuding pemerintah, protes harga naik, tapi tak melihat siapa yang benar-benar bermain di balik layar—distributor, mafia. Kita hanya bidak mereka."

Gas Biru, lebih besar dan berat, menoleh dengan senyum sinis. "Ironis, bukan? Yang katanya murah justru tak sampai ke tangan mereka. Aku tetap ada di restoran, hotel, rumah mewah. Kelangkaan hanya bagi yang miskin, bukan yang mampu."

Gas Pink, yang selama ini diam, akhirnya bersuara. "Dulu aku alternatif," katanya, manja tapi getir. "Bila Gas Hijau tak tersedia, mereka mencari aku. Hargaku lebih tinggi, tapi aku selalu ada. Sekarang? Harga kami sama. Manusia tak lagi melihatku sebagai pilihan, hanya beban."

Dari sudut lain, Gas Biru 10 Kg menertawakan mereka. "Kalian menyedihkan. Kami tetap dipakai yang bisa membayar. Kalian? Hanya bidak di papan catur."

Gas Pabrik mengetuk rak besi, menimbulkan dentingan. "Manusia pikir pabrik bekerja tanpa henti. Tapi sebanyak apapun kami diproduksi, tetap berakhir di sini. Bukan di rumah, bukan di dapur."

Gas Rumahan menarik napas panjang—jika ia bisa bernapas. "Dan para distributor, mafia… tetap tersenyum. Tak pernah tersentuh. Manusia sibuk menuding ke atas, tapi tak melihat yang memegang kendali."

Sunyi merayap kembali. Lampu neon bergetar, dan di kejauhan terdengar deru truk lain, entah membawa tabung pergi atau menumpuk lebih banyak logam di antara bayangan dan ketamakan.



© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.


Kata Kunci:
Tampak Tumpuk Tampuk, cerpen sosial Indonesia, cerpen realisme, dramatis Indonesia, karya Erwinsyah Putra
×