Ramadhan Tanpa Bulan
Oleh Erwinsyah Putra
Ramadhan menatap langit yang perlahan gelap. Cahaya keemasan menyapu ujung atap rumah, sebelum ditelan kegelapan sore. Hembusan angin membawa aroma bulan suci: wangi kolak pisang dari dapur tetangga, suara azan Maghrib di kejauhan, tawa anak-anak berlari membawa plastik es buah.
Namun, Ramadhan tetap duduk diam di dekat jendela, memeluk lututnya. Di tangannya, secangkir teh mengepul, tapi ia tak menyesapnya. Matanya kosong menatap jauh. Ini Ramadhan pertamanya tanpa ibu.
Di dapur, terdengar piring dan sendok bersuara pelan. Ayah menyiapkan hidangan berbuka. Biasanya, ibulah yang sibuk menata meja dan tersenyum hangat kepadanya. Tahun ini berbeda. Rumah terasa luas, sunyi.
***
Ramadhan masih ingat jelas hari ketika segalanya berubah. Ibunya selalu ceria, penuh semangat, tak pernah mengeluh. Beberapa bulan lalu, sesuatu mulai berbeda. Ibunya sering batuk, batuk berat yang tak kunjung sembuh. Kulitnya pucat, tubuh kurus, seperti sesuatu perlahan menggerogoti hidupnya.
"Ibu baik-baik saja, Nak," katanya suatu malam. "Mungkin hanya kecapekan."
Tapi batuknya semakin parah. Suatu malam, Ramadhan terbangun oleh suara batuk keras. Ia berlari ke kamar ibunya, melihat darah merah pekat di telapak tangan ibunya. Malam itu juga, mereka ke rumah sakit.
Dokter berkata tegas: "Kanker paru-paru stadium akhir."
Hanya empat kata. Tapi cukup untuk meruntuhkan harapan yang pernah ia miliki.
***
Hari-hari berikutnya kabur. Rumah sakit menjadi rumah kedua mereka. Ibunya menjalani pengobatan, namun tubuhnya semakin lemah. Ramadhan terbiasa dengan suara alat medis, bau desinfektan, dan pemandangan ibunya yang terbaring dengan selang infus.
"Ibu pasti sembuh, kan?" tanyanya lirih.
Ibunya tersenyum lemah. "Tentu, Nak. Ibu akan sembuh."
Tapi kata-kata itu terdengar seperti harapan kosong.
Ramadhan berdoa setiap malam. Ia percaya keajaiban. Tapi keajaiban itu tak kunjung datang. Suatu hari, dokter memanggil ayahnya. Ketika keluar, wajah ayah penuh kesedihan yang selama ini ia sembunyikan.
"Ayah… ibu akan sembuh, kan?" Ramadhan menatap penuh harap.
Ayah mengusap kepalanya, diam. Dan saat itu Ramadhan sadar: ibunya akan pergi.
***
Hari terakhir ibunya tak akan terlupakan. Ibunya terbaring di ranjang rumah sakit, napas pendek dan berat. Selang oksigen terpasang, monitor berdetak pelan, menunjukkan sisa hidupnya.
Ramadhan menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Ibu… nanti kita pulang, kan?"
Ibunya tersenyum, hampir tak berenergi. "Kita semua akan pulang, Nak… hanya saja, ibu harus pulang lebih dulu."
Ramadhan menggeleng, air mata jatuh. "Tidak… ibu harus kuat. Kita bisa lawan penyakit ini…"
Ibunya hanya mengusap pipinya dengan lemah. "Kamu harus janji satu hal: jangan biarkan kesedihan merenggut kebahagiaanmu. Hidup harus terus berjalan, Nak."
Detik berikutnya, genggaman Ramadhan terlepas. Dunia berubah selamanya.
***
Sejak hari itu, rumah terasa berbeda. Setiap sudut masih menyimpan bayangan ibunya. Bulan suci datang, tapi rasanya hanya pengingat kehilangan. Tak ada lagi suara ibunya membangunkan sahur, tak ada lagi tangan lembut mengusap kepala setelah tarawih.
Tapi ada satu hal yang tersisa: kolak pisang. Ibunya selalu membuatnya tiap Ramadhan. Malam itu, ayah mencoba membuatnya untuk pertama kali.
Azan Maghrib berkumandang. Ramadhan menatap semangkuk kolak di hadapannya, tangan gemetar mengambil sendok, mencicipi sedikit. Rasanya manis, hangat. Air matanya jatuh. Ayah hanya menepuk pundaknya. Mereka makan dalam diam, tapi kini kesunyian tidak menyakitkan.
Di luar, langit gelap. Tapi di dalam hati Ramadhan, ada secercah cahaya mulai menyala kembali.
Ramadhan Tanpa Bulan, cerpen dramatis Indonesia, cerpen keluarga, kehilangan dan harapan, karya Erwinsyah Putra