Seberkas Cahya Redup
Oleh Erwinsyah Putra
Di tengah kota yang penuh kesibukan dan hiruk-pikuk manusia, ada sebuah jalur kecil yang tak pernah diperhatikan siapa pun. Itu bukan gang sempit yang mencurigakan, bukan pula jalan rahasia yang terselip di antara bangunan tua. Jalur itu ada, tapi mata manusia enggan melihatnya.
Malam itu, Cahya melihatnya.
Ia baru saja pulang dari toko buku tempatnya bekerja, berjalan menyusuri trotoar yang biasa ia lewati setiap hari. Hujan rintik turun, membasahi jalanan, menciptakan pantulan cahaya dari lampu jalan yang berpendar keemasan. Saat itulah ia melihat jalur itu.
Jalur itu membentang lurus di antara dua bangunan tua, tampak biasa saja—kecuali satu hal: Cahya yakin betul bahwa jalur itu tidak pernah ada sebelumnya.
Dibimbing oleh rasa ingin tahu yang tak tertahankan, ia melangkah masuk.
***
Langkah pertama terasa biasa. Langkah kedua pun masih normal. Namun, pada langkah ketiga, dunia di sekitarnya berubah.
Udara mendadak lebih berat, seperti ada sesuatu yang tak kasatmata menekan dari segala arah. Cahaya lampu jalan di luar jalur itu meredup, seolah ia telah melangkah ke dalam sebuah dimensi yang lebih dalam dari sekadar bayangan.
Langkah keempat. Langkah kelima.
Bangunan di sekitarnya perlahan berubah. Catnya pudar, retakan muncul di dinding-dinding tua yang sebelumnya tampak kokoh. Seperti film yang dipercepat, gedung-gedung itu berangsur-angsur menua, dimakan waktu.
Langkah keenam.
Cahya berhenti. Di hadapannya, ada sebuah bangku kayu. Dan di bangku itu, seseorang sedang duduk—
Dirinya sendiri.
***
Cahya menatap sosok di depannya. Itu dirinya, tidak salah lagi. Wajah yang sama, pakaian yang sama, bahkan luka kecil di tangan kirinya yang baru didapatnya siang tadi juga ada.
"Siapa kau?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar.
Dirinya yang lain tersenyum tipis, menutup sebuah buku usang yang sedang dibacanya.
"Aku seseorang yang pernah berjalan di jalur ini."
Cahya mengernyit. "Aku juga sedang berjalan di jalur ini."
"Ya."
Sosok itu menepuk-nepuk buku di pangkuannya.
"Maka sebentar lagi kau akan tahu."
Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi langkah kakinya seperti bergerak sendiri.
Langkah ketujuh. Langkah kedelapan.
Dan di langkah kesembilan, ia melihat sesuatu yang lebih aneh.
Di depannya, ada dirinya lagi—tapi kali ini lebih tua. Rambutnya beruban, garis-garis halus menghiasi wajahnya.
"Berapa lama aku berjalan?" tanya Cahya dengan suara lirih.
Dirinya yang lebih tua hanya menatapnya dengan mata penuh rahasia.
"Itu tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung seberapa jauh kau ingin pergi."
***
Cahya menoleh ke belakang, tapi jalur itu sudah tidak ada. Yang ada hanya kegelapan tak berujung.
Pilihan satu-satunya adalah terus maju.
Langkah kesepuluh membawanya ke dunia yang sepenuhnya berbeda.
Gedung-gedung telah menghilang, digantikan oleh hamparan pasir putih yang luas.
Langit di atasnya tidak lagi berwarna biru, melainkan keunguan dengan bintang-bintang yang berputar perlahan.
Di tengah lautan pasir itu, seseorang berdiri menunggunya.
Sosok tanpa wajah.
Tubuhnya tertutup jubah hitam panjang yang berkibar lembut.
Tangannya terulur ke arah Cahya.
Cahya merasa ada sesuatu di dalam dirinya yang bergetar.
Seolah sosok itu bukanlah asing baginya.
"Siapa kau?" Cahya bertanya.
Sosok itu tidak menjawab.
Ia hanya menunggu.
Cahya sadar bahwa ia bisa memilih.
Ia bisa mengambil tangan itu.
Atau mencoba mencari jalan kembali.
Namun saat ia menoleh ke belakang, jalur itu sudah benar-benar hilang.
Ia hanya bisa melangkah maju.
Dan ia pun melangkah.
***
Cahya jatuh.
BRUKK!
Rasa sakit menghantam tubuhnya.
Sebuah cabang kayu runcing menembus perutnya.
Darah.
Pandangannya mulai gelap.
Dunia yang terasa nyata…
Akhirnya runtuh.
***
BIP… BIP… BIP…
Sebuah suara monoton membawanya kembali ke kesadaran.
Matanya terasa berat.
Sinar putih menyilaukan menusuk pandangannya.
Bau antiseptik menusuk hidungnya.
Ia sedang berbaring di atas ranjang rumah sakit.
Sebuah selang infus tertancap di lengannya.
Dadanya naik turun perlahan.
Tubuhnya terasa lemah.
Lalu ingatannya kembali.
Ia ingat botol wiski di lantai apartemennya.
Pecahan kaca yang berkilat di cahaya lampu redup.
Tangannya gemetar.
Dunia terasa hampa.
Ia ingat bagaimana ia menekan pecahan kaca itu ke perutnya sendiri.
Ia ingin menghilang.
Ingin lepas dari semuanya.
Tapi sekarang…
Ia masih hidup.
Cahya menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan mata kosong.
"Jadi… aku masih di sini?" bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara mesin yang terus berbunyi.
Mengingatkannya bahwa ia masih hidup.
Seberkas Cahya Redup, cerpen misteri Indonesia, cerpen psikologis, realitas dan ilusi, cerpen dramatis Indonesia, karya Erwinsyah Putra