Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Jejak yang Tak Terlihat

Minggu, 15 Maret 2026 | 01.02 WIB Last Updated 2026-03-14T18:02:26Z
Jejak yang Tak Terlihat | Cerpen Misteri Karya Erwinsyah Putra
Cerpen Jejak yang Tak Terlihat Karya Erwinsyah Putra

Jejak yang Tak Terlihat

Oleh Erwinsyah Putra

Malam itu, Raka duduk di sudut perpustakaan sekolah, memandangi buku di depannya tanpa benar-benar membaca.

Pikirannya penuh dengan tanda tanya.

Tiga hari yang lalu, sekolahnya gempar karena kasus pencurian laptop milik Pak Arya, guru matematika mereka. Laptop itu berisi soal ujian akhir yang akan berlangsung dua minggu lagi.

Bayu langsung menjadi tersangka utama.

Anak yang sering terlibat masalah itu memang punya reputasi buruk. Ia pernah tertangkap mencuri makanan di kantin dan beberapa kali terlibat perkelahian.

Semua orang seakan setuju bahwa Bayu pasti pelakunya.

Tapi Raka punya firasat berbeda.

Sesuatu terasa tidak benar.

Ia mulai menyelidiki dengan cara sederhana—bertanya kepada beberapa teman sekelas.

"Aku lihat Bayu lewat koridor dekat ruang guru malam itu," kata Dimas.

"Serius? Dia keluar dari ruang guru?" tanya Raka.

"Nggak. Cuma lewat saja."

Jawaban itu membuat Raka semakin curiga.

Jika Bayu benar-benar mencuri laptop, pasti ada yang melihatnya masuk atau keluar dari ruangan itu.

Tapi sejauh ini, semua hanya dugaan.

Raka kemudian menemui Pak Joko, satpam sekolah.

"Pak, CCTV sekolah malam kejadian masih ada?"

Pak Joko menghela napas.

"Sayangnya kamera dekat ruang guru rusak."

Raka semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.

Ia memutuskan berbicara langsung dengan Bayu.

***

Keesokan harinya, Raka menunggu Bayu di belakang gedung olahraga.

Tak lama kemudian Bayu datang dan duduk di bangku semen dengan wajah muram.

"Ada apa, Raka?"

"Aku cuma mau nanya soal laptop Pak Arya."

Bayu mendengus.

"Kamu juga percaya aku pelakunya?"

"Aku cuma mau dengar ceritamu."

Bayu terdiam sebelum akhirnya berkata,

"Aku memang lewat koridor ruang guru, tapi aku tidak masuk. Aku habis dipanggil Pak Joko lalu disuruh pulang."

"Jam berapa?"

"Sekitar jam delapan."

Raka mengangguk pelan.

Jika Bayu sudah keluar jam delapan, lalu kapan pencurian terjadi?

"Kamu lihat sesuatu yang aneh malam itu?"

"Aku dengar langkah kaki dari arah ruang guru. Cepat, seperti orang buru-buru."

Detak jantung Raka berdegup lebih cepat.

Berarti ada orang lain di sana.

***

Raka kembali menemui Pak Joko.

"Pak, benar Bayu keluar jam delapan?"

"Iya, saya lihat sendiri."

Raka menghela napas.

Itu berarti Bayu tidak mungkin pelakunya.

"Siapa saja yang masih di sekolah setelah itu?"

"Beberapa guru. Pak Arya juga masih di ruang guru."

Raka mengerutkan kening.

Jika Pak Arya masih di sana, bagaimana laptopnya bisa hilang?

Ia kemudian mengintip ruang guru.

Di meja Pak Arya, ada sesuatu yang aneh.

Debu tipis menutupi meja—kecuali satu bagian.

Bekas tempat laptop.

Seseorang telah mengambilnya.

***

Esok paginya, Raka kembali memeriksa ruangan itu.

Saat menggeser kursi, ia menemukan sebuah pena hitam dengan logo sekolah.

Pena itu hanya dimiliki oleh staf sekolah.

"Siapa yang terakhir ada di sini?" gumamnya.

Ia lalu menemui Pak Arya.

"Pak, saya ingin bertanya tentang laptop yang hilang."

Pak Arya menatapnya.

"Kenapa kamu tertarik dengan itu?"

"Saya merasa ada yang aneh."

Raka menunjukkan pena yang ia temukan.

"Bapak kenal ini?"

"Pena dari acara tahunan sekolah. Semua guru punya."

Pak Arya lalu mengingat sesuatu.

"Malam itu Pak Jati sempat kembali ke ruang guru."

***

Raka menemui Pak Jati.

"Benarkah Bapak kembali ke ruang guru malam itu?"

"Iya. Saya lupa buku catatan."

Tapi jawabannya terdengar terlalu cepat.

Namun setelah ditanya lebih jauh, Pak Jati mengaku hanya mengambil berkas ujian olahraga.

Ia tidak mengambil laptop.

***

Raka akhirnya memeriksa rekaman CCTV lain yang masih berfungsi.

Di layar monitor, ia melihat sosok seseorang masuk ke ruang guru setelah Pak Arya pergi.

Sosok itu mengenakan jaket bertudung.

Dan saat keluar, ia membawa tas laptop.

Tapi wajahnya tidak terlihat jelas.

Hanya satu detail yang tampak.

Sebuah gelang kulit di pergelangan tangan kirinya.

Raka pernah melihat gelang itu.

Tapi di mana?

***

Raka akhirnya kembali menemui Pak Arya.

"Pak, saya rasa laptop itu tidak dicuri sebelum Bapak pulang."

Pak Arya terdiam.

Lalu ia tertawa pelan.

"Kamu anak pintar, Raka."

"Laptop itu tidak pernah dicuri."

Raka membeku.

"Apa maksud Bapak?"

Pak Arya bersandar santai.

"Laptop itu sengaja saya sembunyikan."

"Saya ingin melihat bagaimana orang-orang bereaksi."

"Dan ternyata… semua orang langsung menyalahkan Bayu."

Raka mengepalkan tangannya.

"Jadi ini semua hanya permainan Bapak?"

"Sebut saja eksperimen sosial."

Raka menatapnya dengan marah.

"Bayu dijadikan kambing hitam."

Pak Arya tersenyum tipis.

"Kadang kita perlu melihat betapa mudahnya orang percaya pada kebohongan."

Raka berdiri.

Ia tahu satu hal pasti.

Bayu harus dibersihkan namanya.

Dan kebenaran harus diketahui semua orang.



© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.


Kata Kunci:
Jejak yang Tak Terlihat, cerpen misteri sekolah, investigasi siswa, cerpen detektif remaja, karya Erwinsyah Putra
×