Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Di Saat Rozan Bimbang

Minggu, 15 Maret 2026 | 00.26 WIB Last Updated 2026-03-14T17:26:14Z
Ilustrasi pria menemukan emas di parit kering

Di Saat Rozan Bimbang


Oleh Erwinsyah Putra


Rozan terbangun dengan napas tersengal-sengal. Tubuhnya yang kurus penuh keringat dingin. Tiga malam berturut-turut, mimpi yang sama menghantuinya—terperosok ke dalam kubangan kotoran manusia yang melengket di tubuhnya, tak peduli seberapa keras ia mencoba membersihkannya.

“Saima...” panggil Rozan pelan sambil mengusap wajahnya dengan tangan gemetar.

Di sampingnya, Saima yang baru terbangun mendesah dengan mata masih menyipit. “Ada apa lagi, Bang? Mimpi yang sama?” tanyanya lembut.

“Iya... Rasanya nyata sekali. Kubangan itu seperti menyerap aku ke dalamnya.”

“Udah, Bang. Jangan terlalu dipikirin. Mimpi kan cuma bunga tidur.”

Beberapa hari kemudian, Rozan berjalan kaki pulang dari lokasi bangunan. Saat melewati parit yang telah mengering, matanya menangkap sesuatu yang mengkilap terbungkus kain hitam.

“Sial, apaan tuh?” gumamnya.

Dengan hati-hati ia turun dan membuka tas itu. Matanya terbelalak. Batangan emas sepuluh gram tersusun rapi di dalamnya.

“Ya Tuhan...” Tangannya gemetar antara bahagia dan takut.

Tak ada siapa-siapa di sekitar. Ia segera menutup tas itu dan menyelipkannya ke balik jaket kumalnya.


Setibanya di rumah, tas hitam itu disembunyikan di bawah tumpukan karung bekas. Hatinya bimbang.

“Kalau kubilang sama Saima? Tapi kalau sampai orang lain tahu?”

Semalaman ia terbaring tanpa tidur. Rasa takut dan tamak bergumul dalam dadanya.


Seminggu kemudian, Saima berlari membawa surat. “Bang, ada surat dari Sutan!”

Anak mereka lulus dari kampus ternama. Haru bercampur cemas memenuhi rumah kecil itu.

“Tapi kita nggak punya biaya hidup di sana...” Rozan tertunduk.

Saima menahan air mata. “Dia anak kita, Bang. Jangan sampai gagal karena kita nggak mampu.”

Malam itu, rahasia di bawah karung terasa semakin berat.


Dini hari, Rozan akhirnya membuka tas hitam itu di hadapan Saima.

“Ini emas, Ma. Beratnya sekitar delapan kilo lebih.”

Saima terbelalak. “Astaghfirullah... Dari mana ini?”

Rozan terdiam. “Mungkin jawaban doa kita.”

Namun ketakutan tetap menghantui. Jika itu milik orang lain?


Keesokan harinya, Rozan mulai melebur emas itu di gudang kecil belakang rumah. Batangan emas mencair menjadi cairan berkilau, lalu dicetak menjadi kepingan kecil agar mudah dijual sedikit demi sedikit.

Namun rasa bersalah terus menggerogoti hatinya.


Suatu sore, tiga pria berpakaian hitam terlihat mengaduk-aduk parit yang mengering.

“Kita nggak bisa pulang sebelum barang itu ketemu!” bentak salah satu dari mereka.

Rozan yang mengintip dari balik tirai gemetar. Tak salah lagi, mereka pasti mencari emas itu.

Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Oleh Erwinsyah Putra

×