Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Pohon di Ujung Dunia

Minggu, 15 Maret 2026 | 01.04 WIB Last Updated 2026-03-14T23:56:08Z
Pohon di Ujung Dunia | Cerpen Fantasi Karya Erwinsyah Putra
Cerpen Pohon di Ujung Dunia Karya Erwinsyah Putra

Pohon di Ujung Dunia

Oleh Erwinsyah Putra

Senja mengintip malu di sela dedaunan, memberikan warna oranye lembut pada hutan kecil di ujung desa.


Raka berdiri tertegun di hadapan pohon besar yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Pohon itu berbeda dari pohon-pohon lainnya—batangnya besar dengan kulit berwarna perak, dan akar-akar menjulur ke tanah seperti ular yang melingkar.


Sejak kecil, Raka suka bermain di hutan ini.


Namun entah mengapa, pohon itu seolah muncul tiba-tiba, berdiri angkuh di tengah hutan tanpa jejak kehadiran sebelumnya.

"Aneh," gumam Raka.


Ia mendekat dan menyentuh kulit pohon yang terasa hangat.


Saat jarinya menyentuh permukaan pohon, sesuatu terjadi.


Cahaya biru terang memancar dari celah di batang pohon.

Udara di sekelilingnya bergetar.


Sebuah bisikan lembut terdengar.

"Masuklah... Sang Penjaga Terakhir... waktumu telah tiba..."


Raka mundur selangkah.

Jantungnya berdetak kencang.


"Siapa? Siapa yang berbicara?"


Tidak ada jawaban.


Cahaya biru semakin terang.

Lingkaran cahaya terbentuk di batang pohon.


Sebelum sempat berpikir, tubuh Raka tersedot masuk ke dalamnya.


Dunia yang ia kenal menghilang.


Raka jatuh terduduk di atas tanah lembut yang dipenuhi lumut bercahaya.


Ia mendongak.Indah Sekali. Seperti Dunia Lain.


Langit berwarna ungu.


Dua matahari kecil menggantung di udara.


Di sekelilingnya terbentang hutan magis dengan pohon berdaun perak dan bunga-bunga bercahaya.


"Di mana aku?" bisiknya.


"Selamat datang di Aurathia." Pekik suara melintas di gendang telinganya.


Raka menoleh.


Seorang perempuan berdiri di depannya.


Ia tinggi dan anggun.

Rambutnya panjang berwarna perak.

Matanya berkilau seperti bintang.


"Namaku Kaela," katanya lembut.


"Kau adalah Penjaga Terakhir."

"Aku telah menunggumu."


"Penjaga terakhir?" Raka menggeleng.

"Aku hanya Raka."


"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud."


Kaela tersenyum tipis.

"Waktumu untuk memahami akan segera tiba."


Wanita itu mengelili Raka "Pohon ini yang membawamu kemari. Ini adalah Pohon Kehidupan."


"Dan kini sekarat." Sekejap Mata Kaela sudah ada di atas Pohon.

"Tanpa Pohon ini, Dunia kami, Aurathia ni akan runtuh."


"Hanya kau yang bisa menyelamatkannya." Kaela muncul kembali di tepat di depan mata Raka.


Rambutnya terhempas, bajunya terayun tapi Raka terdiam.

"Bagaimana caranya?"


"Ikutlah denganku," kata Kaela.

Ia mengulurkan tangan.


Raka mengikutinya.

***

Mereka berjalan melewati hutan penuh keajaiban.

Burung emas bernyanyi.


Air terjun mengalir ke atas.

Makhluk kecil bersayap tertawa di antara bunga-bunga.


Namun Raka merasakan sesuatu yang ganjil.

Beberapa pohon tampak layu.


Daunnya menghitam.

"Aurathia dulu penuh cahaya," kata Kaela lirih.


"Namun sejak Pohon Kehidupan melemah, kegelapan perlahan menyebar."

"Jika kita terlambat, dunia ini akan lenyap."


Raka menelan ludah.

"Apa yang harus aku lakukan?"


"Kau harus menemukan tiga Kristal Cahaya."

"Mereka tersembunyi di tiga tempat berbeda."


Ia melanjutkan. "Hanya dengan kristal itu Pohon Kehidupan bisa hidup kembali."

"Tapi perjalananmu tidak akan mudah." Mereka berhenti. Kaela seperti menunggu jawaban.


Wajahnya memudar, berubah gelap. "Kegelapan akan mencoba menghentikanmu."


"Aku siap," kata Raka.

Meski hatinya masih ragu.


Seketika Sosok Kaela bersinar, bahkan lebih terang. Perjalanan panjang pun dimulai.


Wusssshhhh!!! Mereka melewati lembah berkabut.


Shhhhhh! Mendaki gunung berapi.


Ngeeeennggg! Mengarungi sungai deras.


Ting! Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang pria misterius bernama Malvar.


Ia mengaku pelindung kuno Aurathia.


Namun Raka merasa ada sesuatu yang aneh.


Mata Malvar selalu memancarkan kilatan gelap saat memandang Kaela.


"Berhati-hatilah," bisik Kaela.


"Tidak semua yang kau temui bisa dipercaya."


"Kegelapan memiliki banyak wajah."


Ketulusan hati Raka, melenyapkan sosok gelap itu. Mereka menemukan ketiga Kristal Cahaya.


Tuinnnggg!!!. Mereka kembali ke Pohon Kehidupan.


Namun kegelapan telah menunggu.

Pertarungan besar pun terjadi.


Raka berjuang melawan makhluk bayangan.


Hiyaaaa!!!


Dhuaaarrr


Bheghh !!!


Suiinggg!!!


Awasss

Kaela melindunginya dengan sisa kekuatan yang ia miliki.


Akhirnya Raka meletakkan ketiga kristal di dasar pohon.


Perlahan-lahan, cahaya menyala terang.

Kegelapan sirna.


Aurathia kembali hidup.


Kaela tersenyum lemah.

"Kau berhasil, Raka."


"Aurathia selamat."


Setelah semuanya selesai, Kaela membuka gerbang kembali ke dunia Raka.


"Waktumu di sini telah usai."


"Tapi Aurathia akan selalu menjadi bagian dari dirimu. Titik Cahaya itu melebar membentuk lingkaran."


Raka melangkah masuk ke lingkaran cahaya.


Saat membuka mata, ia sudah kembali di hutan kecil di ujung desa.


Pohon besar itu masih berdiri.


Namun cahaya biru telah hilang.

Raka meraba wajahnya, sudah tumbuh jenggot.


Ia tahu dunia itu menyita waktunya.Dunia yang singkat itu melenyapkan masa mudanya.


Dan petualangannya belum benar-benar berakhir.

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Pohon di Ujung Dunia, cerpen fantasi Indonesia, dunia Aurathia, pohon kehidupan, cerpen petualangan, karya Erwinsyah Putra
×