Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Fataat Gharib

Rabu, 05 Februari 2025 | 22.55 WIB Last Updated 2026-03-01T19:43:57Z
Al 'Alamul Aswad Episode 1 Fataat Gharib

Al 'Alamul Aswad

Episode 1: Fataat Gharib


Oleh Erwinsyah Putra


Kabut malam menyelimuti Desa Krishitang.

Seperti selendang abu-abu yang menggantung di antara pepohonan, ini begitu dingin.

Suara binatang malam terdengar sayup-sayup.

Namun ada sesuatu yang terasa berbeda—sebuah keheningan ganjil yang menggigit udara.

Tiop membuka pintu rumahnya dengan enggan.

Angin dingin menyelusup masuk, membuat api di lampu minyak bergetar.

Ia melangkah ke beranda.

Menatap pekarangan yang basah setelah hujan sore tadi.

Sepasang mata mengawasinya dari kegelapan hutan.

Atau setidaknya, begitulah perasaannya.

"Pak?"

Suara Lenni memanggil dari dalam, sedikit bergetar.

Tiop menoleh.

"Tak ada apa-apa. Masuklah, sudah malam."

Namun sebelum ia sempat menutup pintu, suara jeritan pecah di kejauhan.

Jeritan panjang.

Melengking.

Penuh ketakutan.

Jantung Tiop berdegup kencang.

Anjuna yang berada di dapur berhenti mengiris sayur.

Matanya membesar.

"Apa itu?"

Tak ada yang menjawab.

Hanya keheningan yang menggantung.

Dan kemudian suara langkah kaki berlari di jalanan berbatu.

Disusul ketukan keras di pintu mereka.

"Pak Tiop! Cepat keluar!"

Tiop mengenali suara itu.

Lottung, kepala Desa Krishitang.

Tiop menelan ludah, lalu melangkah keluar.

Lenni dan Anjuna mengikutinya.

Berdiri di ambang pintu dengan wajah tegang.

Beberapa warga telah berkumpul di tengah jalan Desa Krishitang.

Obor di tangan mereka menerangi wajah-wajah panik.

"Ada apa?"

Lottung mengusap wajahnya yang basah keringat.

"Kami menemukan mayat... di tepi hutan."

Suaranya bergetar.

Lenni menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Anjuna diam.

Matanya menatap kosong ke dalam gelap.

"Siapa?"

Suara Tiop berat.

Lottung menggeleng.

"Kami belum tahu pasti. Tapi kondisinya... sangat mengenaskan. Lebih baik Pak Tiop melihat sendiri."

Tiop tahu ia tidak bisa menolak.

Ia meraih jaketnya dan mengikuti rombongan warga menuju hutan.

Saat mereka sampai di tepi hutan, beberapa warga menjerit ngeri.

Mayat seorang pemuda terbujur kaku.

Wajahnya hampir tidak bisa dikenali lagi.

Darah mengering di lehernya yang penuh luka sayatan.

Babinsa Menek berjongkok di samping tubuh itu.

Matanya menyipit saat melihat Tiop.

"Kau kenal dia?"

Tiop menelan ludah.

Pemuda itu... sepertinya ia mengenalnya.

Tetapi dari mana?

Bayangan samar menghantui pikirannya.

Sementara itu, Anjuna berdiri agak jauh.

Matanya menatap mayat itu tanpa ekspresi.

Angin malam berhembus.

Membawa bisikan yang hanya bisa ia dengar seorang diri.

***

Malam itu langit gelap tanpa bintang.

Di dalam rumah, suasana tegang merayap di antara dinding kayu.

Tiop duduk dengan tangan mengepal.

Lenni mondar-mandir.

Anjuna diam di sudut ruangan.

"Anjuna... katakan sesuatu."

Suara Lenni penuh ketakutan.

Anjuna mengangkat wajahnya perlahan.

"Aku yang melakukannya."

Kata-kata itu lirih.

Tiop menegakkan tubuhnya.

"Apa maksudmu?"

Anjuna menunduk.

"Aku ada di sana saat dia mati."

Lenni menjerit pelan.

"Ya Tuhan, Anjuna... apa yang kau lakukan?!"

Tiop mencengkeram bahu putrinya.

"Kau harus jelaskan semuanya! Apa yang terjadi?!"

"Dia mengikutiku."

"Aku sudah bilang padanya untuk berhenti."

"Aku ketakutan."

"Aku hanya ingin dia pergi."

"Lalu?"

"Aku tidak ingat semuanya."

"Tahu-tahu dia sudah tergeletak."

"Berdarah."

"Aku merasa ada sesuatu yang menggerakkanku."

"Sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri."

Tiop dan Lenni saling berpandangan.

Ini bukan sekadar perkelahian biasa.

"Kita harus menutupi ini."

Suara Tiop dingin.

"Ini pembunuhan!"

"Ini putri kita."

"Kita tidak bisa membiarkannya dipenjara."

Anjuna tetap diam.

Di sudut ruangan, bayangan seolah tersenyum kepadanya.

***

Hujan turun deras.

Petir menggelegar.

Ketukan keras terdengar di pintu.

Babinsa Menek berdiri dengan jas hujan basah.

"Kami menemukan sesuatu lagi."

Ia mengangkat liontin perak berbentuk bulan sabit.

"Ini ditemukan di dekat mayat."

"Apakah ini milik keluarga Anda?"

Anjuna menatap liontin itu.

"Aku tidak ingat pernah menjatuhkannya..."

Tiop mengepalkan tangan.

Ini bukan kebetulan.

***

Malam berikutnya Tiop kembali ke hutan.

Kabut tebal bergelayut.

Di tengah lingkaran batu, seorang wanita tua berjubah hitam berdiri.

Ia melantunkan mantra.

"Kau seharusnya tidak ada di sini."

Suaranya menggema.

Seseorang menarik Tiop dari belakang.

Menek.

"Mereka sudah lama mengendalikan desa ini."

"Dan kau baru saja masuk ke permainan mereka."

"Bukan hanya mengincarnya."

"Mereka membutuhkannya."

Kata-kata itu menghantam Tiop.

Ia berlari pulang.

Dan firasat buruk menyelimutinya.

***

Pintu rumah terbuka.

Sunyi.

Lenni duduk membeku.

Di sudut ruangan berdiri Anjuna.

Pakaiannya berlumuran darah.

Di tangannya sebilah pisau.

"Ayah… aku ingat semuanya."

"Aku bukan korban."

"Aku bagian dari mereka."

"Sejak awal."

"Aku bukan anak kandung kalian."

"Aku adalah bagian dari ritual."

Bayangan berjubah hitam muncul di depan pintu.

"Mereka datang menjemputku."

"Ini takdirku."

"Aku sudah memilih, Ayah."

Anjuna melangkah keluar.

Para sosok berjubah hitam menunduk hormat.

Mereka membawanya pergi.

Tiop jatuh terduduk.

Ini bukan akhir.

Ini baru permulaan.

"Kita akan kembali ke awal."

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
cerita sambung horor, al alamul aswad, fataat gharib, desa krishitang, ritual gelap, sekte jubah hitam, cerpen horor indonesia, erwinsyah putra
×