Al 'Alamul Aswad
Episode 2
Oleh Erwinsyah Putra
Desa Krishitang dulu dikenal tenteram.
Tenang.
Damai.
Sampai suara itu datang.
Bukan suara biasa.
Ia hanya bisa didengar oleh orang-orang tertentu.
Anjuna adalah salah satunya.
Suara itu hadir setiap tengah malam.
Berbisik seperti angin yang menyusup ke celah dinding bambu.
"Ngebe tangi... ngebe tangi..."
Anjuna tak pernah tahu artinya.
Tapi setiap kali mendengarnya, dadanya terasa sesak.
Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang dipanggil.
Semakin malam berganti, tubuhnya makin kurus.
Lingkar hitam di matanya makin dalam.
Hingga suatu malam, ia memilih mengikuti suara itu ke hutan tua di pinggir desa.
Di bawah pohon besar yang menjulang seperti tiang langit, ia melihat sosok berjubah merah tua.
Wajahnya tersembunyi dalam bayangan.
Sosok itu menunjuk tanah.
Anjuna melihat pusara tua berlumut.
Nama yang terukir di batu itu adalah namanya sendiri.
Ia menjerit.
Tangan-tangan muncul dari tanah.
Mencengkeram kakinya.
Lalu semuanya gelap.
Keesokan pagi, ia ditemukan linglung di depan rumahnya.
Sejak malam itu, suara itu menghilang.
Tapi desa mulai berubah.
Binatang ternak lenyap.
Tanaman mengering.
Dalam sebulan, sembilan anak menghilang tanpa jejak.
***
Ketakutan menyelimuti Krishitang.
Di tengah kepanikan itu, Tetlom muncul.
Ia bukan hanya cantik dan cerdas.
Ia pendekar.
Ia penyembuh.
Ia pemecah masalah.
Ia mendatangi setiap rumah yang kehilangan anak.
Ia mencatat setiap detail kecil.
Dan satu nama terus muncul.
Cokgom.
Guru relawan yang dikenal baik.
Terlalu baik.
Lalu seorang anak yang hilang kembali.
Tondi.
Wajahnya pucat.
Tubuhnya gemetar.
"Mereka membawaku ke tempat gelap..."
"Mereka pakai jubah hitam dan merah..."
Tetlom menahan napas.
"Suaranya mirip Pak Cokgom..."
Bisik warga berubah menjadi desis ketakutan.
Belum selesai keterkejutan itu, kabar lain datang.
Bayi Pak Ramos hilang.
***
Malam berikutnya, Tetlom berdiri di hutan.
Obor warga menyala di belakangnya.
Di hadapannya, sembilan sosok berjubah hitam berdiri melingkar.
Di tengahnya, bayi Pak Ramos terbaring di atas altar batu.
Pemimpin ritual berjubah merah tua mengangkat tangannya.
"Kau melangkah terlalu jauh, Tetlom."
"Aku melangkah sejauh yang diperlukan."
Tanah bergetar.
Akar pohon menjalar seperti ular raksasa.
Tetlom menebasnya.
Pertarungan pecah.
Satu per satu pengikut sekte tumbang.
Namun ketika salah satu jubah tersingkap, warga membeku.
Pak Ramos.
"Kau mengorbankan bayimu sendiri?"
"Ini janji leluhur..."
Suaranya pecah.
Pemimpin ritual tertawa lirih.
"Kami butuh sembilan anak."
"Dan satu bayi."
Tetlom menghujamkan keris pusaka ke tanah.
Cahaya putih meledak.
Energi hitam hancur.
Altar terbelah.
Bayi itu terlempar.
Tetlom menangkapnya.
Sekte panik.
Warga menemukan keberanian mereka.
Pak Ramos dan delapan lainnya diseret ke mobil polisi.
Hutan kembali sunyi.
Terlalu sunyi.
***
Di dalam mobil polisi, pemimpin ritual tersenyum tipis.
"Hanya mereka yang memiliki garis keturunan iblis yang bisa keluar masuk dua alam."
Semua menoleh dengan ngeri.
"Dan siapa yang melakukan itu tadi?"
Di kejauhan, Tetlom berdiri di bawah cahaya bulan.
Ada sesuatu yang belum selesai.
Ia merasakannya.
Dan cerita ini...
Belum berakhir.
cerita sambung horor, al alamul aswad, aabidul aswad, misteri desa krishitang, sekte jubah hitam merah, tetlom pendekar wanita, ritual kegelapan, cerpen horor indonesia