Al 'Alamul Aswad
Episode 3: Mudhnib Bari'
Oleh Erwinsyah Putra
Langit pagi membentang luas di atas desa.
Semburat oranye merayap di cakrawala.
Udara masih sejuk.
Sisa embun menempel di dedaunan.
Berkilauan saat tersentuh sinar matahari yang perlahan muncul dari balik bukit.
Tetlom berdiri di tepi sungai.
Merasa arus air dingin mengalir melewati jemarinya.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya sejak semalam.
Sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Tetlom bukanlah manusia biasa.
Sejak kecil, ia selalu merasakan ada yang berbeda dalam dirinya.
Ia bisa mendengar bisikan di tempat-tempat sunyi.
Melihat bayangan yang tak terlihat oleh orang lain.
Namun hari ini, ia benar-benar menyadari siapa dirinya.
Di bawah pohon beringin tua yang menjulang di tepi sungai, seorang lelaki tua duduk bersila.
Dia adalah Gurnom.
Orang bijak yang dikenal sekaligus ditakuti karena kedekatannya dengan dunia arwah.
"Tetlom," suara Gurnom berat.
"Kau sudah siap mendengar kebenaran tentang dirimu?"
Tetlom menatapnya.
Kedua tangannya mengepal.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Gurnom menghela napas panjang.
"Kau bukan hanya anak desa biasa."
"Kau adalah pewaris takdir yang telah dituliskan sejak zaman dahulu."
"Darah yang mengalir dalam tubuhmu adalah warisan dari sang Raja Iblis."
Kata-kata itu menghantam Tetlom seperti badai.
"Tidak... itu tidak mungkin."
"Kau harus menerimanya."
"Raja Iblis adalah manusia yang dikutuk karena keserakahan."
"Dan darahnya masih mengalir dalam keturunannya."
"Aku bukan monster."
"Tapi kau bisa merasakan kekuatan itu."
"Itu adalah panggilan takdir."
Hening menyelimuti mereka.
Burung berkicau dari kejauhan.
Namun di dalam dada Tetlom, badai membesar.
"Jika aku pewarisnya... apa yang harus kulakukan?"
"Kau masih punya pilihan."
"Gunakan kekuatan itu… atau biarkan ia menguasaimu."
***
Gurnom mulai menceritakan tentang Barugma.
Seorang manusia yang tak pernah puas.
Pengelana yang mencari kekuatan tanpa batas.
Ia mempelajari sihir hitam.
Melakukan ritual terlarang.
Dan akhirnya kehilangan jiwanya sendiri.
"Barugma adalah Raja Iblis."
"Bukan karena lahir sebagai iblis."
"Tetapi karena ia memilih menjadi iblis."
"Ia meleburkan jiwanya ke dalam darah keturunannya."
Tetlom menggigil.
"Dan darah itu… ada dalam tubuhku."
"Ya."
"Tapi kau masih bisa memilih jalanmu sendiri."
***
Di rumah besar tepi hutan, Cokgom duduk di depan altar batu.
Lilin bergetar.
"Sudah saatnya," bisik suara dari kegelapan.
Pawang Sekte muncul.
"Kekuasaan butuh pengorbanan."
Cokgom menoleh ke keranjang anyaman.
Seorang bayi tidur di dalamnya.
"Anakku..."
"Ia hanyalah alat."
Pawang Sekte tersenyum.
"Malam ini, saat bulan purnama mencapai puncaknya, ritual dimulai."
***
Anjuna duduk di puncak bukit.
Mendengar bisikan leluhur.
"Waktunya telah tiba."
"Tetlom semakin kuat."
Di gua terlarang, Tetlom berdiri di depan cermin hitam.
Sosok Raja Iblis menyeringai dari dalamnya.
"Kau butuh lebih banyak darah."
"Aku akan mendapatkannya," desis Tetlom.
***
Malam terasa berat.
Awan hitam berputar di langit.
Tanah bergetar.
Cahaya merah menyala dari dalam gua.
Tetlom melayang di udara.
Bayangan hitam mengelilinginya.
"Jadilah wadahku."
Cermin hitam mulai retak.
Suara tangisan bayi terdengar.
Jorbut.
Cahaya keemasan memancar dari tubuh bayi itu.
Bayangan hitam tertarik.
Tubuh Tetlom mengejang.
"A-apa yang terjadi?!"
Raja Iblis menjerit.
Bayangan terhisap ke dalam cahaya.
Gua runtuh.
Anjuna tiba tepat saat ledakan mengguncang tanah.
Jorbut terangkat tinggi oleh cahaya.
Pendeta desa berbisik.
"Jorbut adalah keturunan Tiop."
Anjuna membeku.
Langit terbelah.
Dan malam itu…
Sesuatu yang lebih besar dari iblis telah lahir.
cerita sambung horor, al alamul aswad, mudhnib bari, misteri desa krishitang, raja iblis barugma, ritual sekte, tetlom vs anjuna, cerpen horor indonesia