Fillo News - Padangsidimpuan - Di sudut Salambue, seorang mahasiswa muda memilih jalan yang tak biasa untuk menopang mimpinya. Namanya Syarif Syahputra, lahir 26 Januari 2005, mahasiswa Jurusan Hukum Pidana Islam yang kini merintis usaha bertajuk “Kopi Kelana”. Bagi Syarif, kopi bukan sekadar minuman, melainkan jembatan antara semangat dan tanggung jawab belajar kepada keluarga.
Di tengah kesibukan kuliah, ia memutuskan membangun usaha sendiri agar dapat meringankan beban orang tua dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kopi Kelana lahir dari gagasan sederhana namun unik: kopi motoran dengan lokasi yang berpindah-pindah, menyesuaikan titik-titik menarik di sekitar kota. Berbekal sepeda motor dan peralatan seduh, Syarif memulai aktivitasnya dari rumah, lalu bergerak ke perbukitan saat sore hari, hingga ke pusat kota atau ruang-ruang publik yang ramai dikunjungi anak muda.
Ia memilih konsep mobile agar bisa mendekatkan kopi pada suasana, bukan sekadar menunggu pelanggan datang. Menariknya, Syarif menangkap perubahan selera penikmat kopi yang kini semakin kritis. Banyak pelanggan lebih menyukai manual brew dan minuman berbasis espresso. Karena itu, ia mempersiapkan metode seduh yang sesuai dengan tren tersebut.
Di atas bukit saat matahari mulai tenggelam, ia menyeduh kopi dengan teknik manual brew, menghadirkan aroma yang menyatu dengan udara sore. Di pusat kota, ia meracik espresso based yang menjadi favorit kalangan mahasiswa dan pekerja muda. Bagi Syarif, perjalanan dari rumah ke bukit, lalu ke pusat kota, bukan sekadar perpindahan lokasi berdagang.
Itu adalah simbol perjuangan. Ia harus membagi waktu antara perkuliahan dan usaha, mengatur jadwal kuliah, membaca literatur hukum, sekaligus merancang titik singgah Kopi Kelana berikutnya. Konsep lokasi random yang ia usung justru menjadi daya tarik tersendiri, karena pelanggan kerap menanti pengumuman di media sosial tentang di mana ia akan “berlabuh” hari itu. Kopi Kelana bukan hanya tentang rasa, tetapi tentang keberanian memulai. Di usia yang masih muda, Syarif memilih untuk tidak bergantung sepenuhnya pada kiriman bulanan dari orang tua.
Ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa pun bisa mandiri secara ekonomi tanpa meninggalkan bangku kuliah. Harapannya sederhana namun kuat: agar usaha ini terus berkembang, memiliki pelanggan setia, dan suatu hari nanti tumbuh lebih besar dari sekadar kopi motoran. Di tengah geliat budaya ngopi yang kian marak, langkah kecil dari Salambue ini menjadi potret semangat generasi muda yang berani bergerak.
Dari halaman rumah, ke bukit yang sunyi, hingga hiruk-pikuk pusat kota, Kopi Kelana berjalan seiring mimpi seorang mahasiswa yang ingin mandiri dan bertumbuh. (Al)




