Harga Sebuah Nama
3 Ramadhan 1447 H / 21 Februari 2026
Oleh: Erwinsyah Putra
Siang itu papan pengumuman di kantor desa dipenuhi orang.
“Sudah keluar?”
“Sudah ditempel tadi pagi.”
Dito berdiri paling belakang. Tangannya dingin meski matahari terik.
Daftar bantuan modal usaha terpampang jelas. Nama-nama tersusun rapi. Ia mencari satu nama.
Tidak ada. Ia maju selangkah. Memastikan lagi. Tetap tidak ada.
Padahal seminggu lalu, Pak Lurah menepuk bahunya. “Tenang saja, Dito. Usahamu layak dibantu.” Dito berbalik.
Melangkah masuk ke kantor desa tanpa mengetuk. Pak Lurah sedang duduk bersama Rahman, sekretaris desa.
“Permisi,” kata Dito datar.
Pak Lurah mengangkat kepala. “Oh, Dito. Sudah lihat pengumuman?”
“Sudah.”
“Bagus, kan? Banyak warga terbantu.”
“Nama saya tidak ada.”
Ruangan mendadak sunyi. Pak Lurah berdeham.
“Banyak yang mendaftar. Kuotanya terbatas.”
“Saya tahu.”
“Jadi harus ada yang tidak lolos.”
“Saya tahu.”
Pak Lurah menatapnya. “Lalu?”
Dito mendekat. “Minggu lalu Bapak bilang usaha saya layak.”
“Itu sebelum verifikasi.”
“Verifikasi apa?”
Rahman menyela cepat. “Administrasi, kelengkapan, survei lapangan.”
Dito tertawa kecil. “Survei lapangan? Kapan kalian datang ke bengkel saya?”
Tak ada jawaban.
Pak Lurah bersandar. “Jangan menuduh.”
“Saya tidak menuduh. Saya bertanya.”
Rahman terlihat gelisah. “Begini saja, Dito. Mungkin tahun depan.”
“Tahun depan?” Suara Dito meninggi. “Motor yang saya perbaiki hari ini tidak bisa menunggu tahun depan.”
Pak Lurah mengetuk meja pelan. “Jaga nada bicaramu.”
“Jaga keadilanmu.” Kalimat itu menggantung.
Pak Lurah menyipitkan mata. “Kau merasa diperlakukan tidak adil?”
Dito menatap lurus. “Yang masuk daftar itu keponakan Pak Rahman. Anak Pak Warsito. Saudara Pak RT. Saya salah di mana?”
Rahman berdiri. “Itu kebetulan!”
“Banyak sekali kebetulannya,” jawab Dito cepat.
Pak Lurah berdiri perlahan. “Kau tahu apa yang lebih penting dari bantuan itu?”
“Apa?”
“Hubungan baik.” Dito terdiam beberapa detik.
Lalu ia mengangguk pelan. “Jadi ini soal kedekatan?”
“Jangan menyederhanakan.”
“Kalau begitu jelaskan.”
Sunyi.
Pak Lurah mendekat. Suaranya rendah. “Di desa ini, yang keras kepala jarang dapat jalan.”
Dito tersenyum tipis. “Dan yang diam dapat apa?”
“Ketentraman.”
Dito menggeleng. “Saya tidak butuh tentram. Saya butuh keadilan.”
Rahman menepuk meja. “Kau terlalu banyak bicara.”
“Karena terlalu lama saya diam.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa sempit.
Dari luar terdengar suara warga masih membaca papan pengumuman.
Pak Lurah kembali duduk. “Apa maumu sekarang?”
“Saya ingin transparansi.”
“Itu kata-kata besar.”
“Karena masalahnya besar.”
Pak Lurah menatapnya lama. “Kalau kami tidak mengubah keputusan?”
Dito menarik napas panjang. “Saya akan bicara di depan warga. Saya akan jelaskan bagaimana daftar itu dibuat.”
Rahman tersentak. “Kau mengancam?”
“Saya menyampaikan niat.”
Pak Lurah menatap jendela. Beberapa warga masih berdiri di luar.
“Kalau kau lakukan itu,” katanya pelan, “usahamu bisa sulit berkembang di desa ini.”
Dito mendekat satu langkah lagi. “Usaha saya sudah sulit, Pak. Itu sebabnya saya mendaftar.”
Hening. Tak ada yang berkedip.
Akhirnya Dito berbalik menuju pintu. “Satu hal lagi,” katanya tanpa menoleh.
“Nama itu bukan sekadar tulisan di papan. Itu harga diri.” Ia melangkah keluar.
Di depan papan pengumuman, warga mulai berbisik melihat wajahnya yang tegang.
Rahman menoleh pada Pak Lurah. “Bagaimana ini, Pak?”
Pak Lurah tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada pintu yang masih sedikit terbuka.
Dan untuk pertama kalinya, daftar nama itu terasa lebih berat dari sekadar kertas.
Selesai.
© 2026 Erwinsyah Putra - FilloMagz Online
Keywords: Cerpen Harga Sebuah Nama, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, Cerpen Sosial, Cerita Pendek Eksklusif.