Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Ketum HMI UGN: Ramadhan sebagai Bulan Menata Ulang Arah Perjuangan Kader

Minggu, 22 Februari 2026 | 02.53 WIB Last Updated 2026-02-27T13:36:13Z
Andri Hansaso Nasution Ramadhan 1447 H

Refleksi Strategis Ramadhan 1447 H: Andri Hansaso Nasution

Momentum Ramadhan 1447 H dimaknai serius oleh Ketua Umum HMI Komisariat UGN Cabang Padangsidimpuan–Tapsel, Andri Hansaso Nasution. Dalam wawancara bersama FilloMagz, mahasiswa Agroteknologi UGN Padangsidimpuan itu menegaskan bahwa Ramadhan tahun ini bukan sekadar rutinitas spiritual tahunan, melainkan ruang refleksi strategis bagi kader HMI.

Menurutnya, zaman bergerak sangat cepat dan penuh distraksi. Digitalisasi, pragmatisme kampus, hingga kompleksitas persoalan umat menuntut kader HMI tidak sekadar aktif, tetapi juga memiliki arah yang jelas.

“Ramadhan 1447 H ini harus kita maknai sebagai momentum menata ulang orientasi diri. Setelah sekian proses kaderisasi yang kita lalui, kita perlu bertanya secara jujur: di mana posisi kita hari ini?” ujarnya.

Ia menilai, tidak sedikit kader yang aktif dalam forum dan diskusi, bahkan tampil vokal dalam berbagai agenda, namun perlahan kehilangan kedalaman spiritual. Di sisi lain, ada pula yang terlalu fokus mengejar posisi struktural sehingga menjauh dari tradisi intelektual yang menjadi ruh perjuangan HMI.

“Ukuran kualitas kader itu bukan seberapa ramai forum yang dihadiri, tetapi seberapa dalam nilai yang dihidupi. Ramadhan mengetuk kesadaran itu,” tegasnya.

Andri menggambarkan realitas mahasiswa hari ini yang tidak ringan: tekanan ekonomi, kecemasan menghadapi dunia kerja, hingga budaya instan media sosial membentuk generasi yang serba cepat namun mudah lelah secara mental.

Dalam situasi tersebut, kader HMI tidak cukup hanya menjadi pengkritik keadaan. “Kita tidak boleh hanya hadir sebagai pengamat. Kader HMI harus menjadi penenang dan penggerak solusi. Ramadhan mengajarkan empati sosial yang konkret, bukan sekadar wacana,” katanya.

Ia menekankan tiga penguatan utama selama Ramadhan 1447 H. Pertama, penguatan integritas pribadi. Puasa melatih konsistensi antara yang tampak dan tersembunyi. Nilai keislaman tidak boleh berhenti pada simbol atau retorika forum.

“Integritas itu terlihat dari etika akademik, kejujuran dalam organisasi, dan cara kita memperlakukan sesama mahasiswa. Kalau itu tidak ada, maka puasa hanya menjadi formalitas,” ungkapnya.

Kedua, revitalisasi tradisi intelektual. Ramadhan bukan alasan untuk menurunkan kualitas berpikir. Tradisi membaca Al-Qur’an harus berjalan beriringan dengan membaca realitas sosial.

“Diskusi kader harus kembali tajam, tulisan harus kembali hidup. Budaya literasi jangan hanya jadi jargon. HMI lahir dari tradisi intelektual yang kuat, itu harus kita jaga,” ujarnya.

Ketiga, keberpihakan sosial yang nyata. Ramadhan harus mengikis jarak antara kader dan realitas masyarakat melalui gerakan yang membumi dan advokasi konkret.

Di akhir refleksi Ramadhan 1447 H, Andri menegaskan bahwa kader HMI dituntut berani berubah dan kembali pada substansi perjuangan.

“Saya berharap Ramadhan ini tidak berlalu sebagai rutinitas, tetapi menjadi titik penguatan ruh perjuangan agar kita tidak hanya aktif bergerak, melainkan juga jernih arah dan dalam makna,” pungkas Andri Hansaso Nasution.

×