Cerpen Eksklusif
1 Ramadhan 1447 H / 19-02-2026
Erwinsyah Putra
Kursi Selalu Diam
Kantor Lurah itu sunyi setelah semua orang pulang. Lampu neon menggantung redup, bergetar pelan seperti menahan lelah. Di sudut ruangan, sebuah kursi kayu tua menghela napas panjang.
“Akhirnya mereka pergi juga.” Meja panjang di depannya berderit pelan.
“Kau lagi-lagi diduduki Pak Lurah.”
“Ya,” jawab kursi itu lirih. “Berat badannya makin bertambah. Tapi bukan itu yang paling berat.”
“Lalu apa?”
“Keputusan-keputusan yang ia buat.” Meja terdiam.
Sejak bertahun-tahun lalu, kursi itu selalu menjadi tempat duduk pemimpin kelurahan. Ia menyaksikan perdebatan, janji-janji, pembagian bantuan, dan kadang—kebohongan.
“Kau masih ingat Sekar?” tanya meja. Kursi itu bergetar halus.
“Aku ingat. Perempuan yang berdiri di tengah ruangan ini. Suaranya gemetar, tapi matanya tidak.”
“Kau mendengar semuanya?”
“Aku merasakan semuanya,” jawab kursi pelan.
“Saat Pak Lurah bersandar dan berkata adat tak boleh dilanggar, punggungku terasa panas. Seolah kayuku ingin retak.”
Meja mendecak. “Kita ini hanya benda. Tak bisa bicara.”
“Kita memang tak bisa bicara,” sahut kursi, “tapi kita menyimpan.”
Angin malam masuk lewat jendela yang tak tertutup rapat. Tirai berkibar pelan.
“Kau tahu apa yang paling menyakitkan?” kursi kembali bersuara. “Bukan saat mereka berteriak. Tapi saat mereka yakin mereka benar.”
Meja bergeser sedikit. “Bukankah pemimpin memang harus yakin?”
“Yakin boleh,” jawab kursi tegas. “Tapi menutup telinga itu beda.”
Beberapa saat hening. Di luar, terdengar suara perempuan-perempuan tertawa kecil. Jauh, tapi nyata.
Meja berbisik, “Mereka mulai berkumpul.”
Kursi tak menjawab cepat. Ia seperti sedang mengingat sesuatu.
“Aku sudah terlalu lama menjadi saksi keputusan sepihak,” katanya akhirnya.
“Kayuku mulai lapuk bukan karena usia, tapi karena diam.”
“Lalu apa yang bisa kau lakukan?” Kursi tertawa pelan, kering seperti kayu digesek.
“Besok, saat rapat dimulai dan Pak Lurah duduk, aku akan goyah.”
“Goyah?”
“Sedikit saja. Cukup membuatnya berdiri.”
Meja terdiam.
“Dan ketika ia berdiri,” lanjut kursi, “ia akan tahu bahwa kekuasaan tidak selalu punya tempat duduk.”
Lampu neon berkedip dua kali, lalu padam.
Keesokan harinya, rapat dimulai seperti biasa. Pak Lurah datang, menarik kursi itu, lalu duduk dengan percaya diri.
Krek!!!.
Suara kayu retak terdengar jelas.
“Kenapa ini?” gerutunya. Kursi itu bergoyang pelan.
Tak roboh. Hanya membuatnya berdiri kembali.
Semua mata menatap.
Di luar, langkah-langkah perempuan mendekat ke balai desa.
Dan untuk pertama kalinya, kursi itu merasa ringan.
Selesai
© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.
Keywords: Cerpen Kursi Selalu Diam, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen realisme sosial, cerpen reflektif, cerita pendek kantor kelurahan, cerpen inspiratif.