Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Kemiskinan Datang Bertamu

Jumat, 20 Februari 2026 | 18.04 WIB Last Updated 2026-03-04T17:39:09Z
Kemiskinan | Cerpen Ramadhan Erwinsyah Putra

Cerita Pendek Eksklusif

2 Ramadhan 1447 H / 20-02-2026
Erwinsyah Putra


Arman dan tamu bernama Kemiskinan dalam cerpen Kemiskinan

Kemiskinan Datang Bertamu


Malam itu listrik padam lebih cepat dari biasanya. Rumah kayu itu hanya diterangi lampu minyak yang menyala kecil di sudut ruang tamu.

Arman duduk di kursi bambu, memandangi amplop tagihan yang belum terbayar.

Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok. Tok.!!!

Arman mengernyit. “Siapa malam-malam begini?”

Tak ada jawaban.

Tok.!!! Tok.!!! Tok.

Ia bangkit, membuka pintu dengan enggan.

Seorang lelaki kurus berdiri di ambang.

Pakaiannya lusuh, wajahnya pucat, matanya cekung namun tajam.

“Permisi,” katanya tenang. “Aku mau masuk.”

Arman menatapnya dari atas sampai bawah. “Siapa kau?”

Lelaki itu tersenyum tipis. “Kau sudah lama kenal aku.”

“Aku tidak pernah melihatmu.”

“Oh, kau sering merasakanku,” jawabnya. “Namaku Kemiskinan.”

Arman mendengus. “Aku tidak butuh tamu.”

Kemiskinan melangkah masuk tanpa menunggu izin. “Aku tidak pernah menunggu diundang.”

Arman menutup pintu keras-keras. “Keluar.”

Kemiskinan malah duduk di kursi bambu yang tadi diduduki Arman. “Sudah tiga bulan aku tinggal di sini. Kau baru sadar sekarang?”

Arman mengepal. “Aku masih bekerja.”

“Ya,” jawab Kemiskinan santai.

“Tapi upahmu tak cukup. Harga beras naik. Biaya sekolah anakmu bertambah. Istrimu mulai menjahit sampai tengah malam.”

Arman terdiam.

Dari kamar terdengar batuk kecil anaknya.

Kemiskinan menoleh ke arah suara itu. “Batuknya sudah seminggu. Kau belum beli obat.”

“Aku akan beli besok,” Arman memotong cepat.

“Kau bilang begitu kemarin.”

Arman mendekat. “Aku tidak menyerah.”

Kemiskinan tertawa pelan. “Aku suka orang seperti kau. Keras kepala. Tapi kau lelah, kan?”

“Tidak.”

“Kau bahkan mulai menghindari tetangga. Malu karena belum bayar iuran. Kau pura-pura tidak dengar saat mereka rapat.”

Arman menatap tajam. “Jangan bicara seolah kau tahu hidupku.”

“Aku hidup di dalamnya,” jawab Kemiskinan datar.

Lampu minyak bergetar kecil tertiup angin dari celah dinding.

“Apa maumu?” tanya Arman akhirnya.

Kemiskinan berdiri. “Aku tidak minta apa-apa. Aku hanya tinggal.”

“Untuk berapa lama?”

“Itu tergantung padamu.”

Arman tertawa sinis. “Semudah itu?”

“Tidak,” sahut Kemiskinan. “Karena aku tidak pergi hanya dengan kerja keras. Aku pergi jika kau berani mengubah cara.”

“Maksudmu?”

“Kau menunggu dipanggil kerja. Kau menunggu bantuan. Kau menunggu belas kasihan. Sementara waktu berjalan.”

Arman terdiam.

“Kau marah pada keadaan,” lanjut Kemiskinan, “tapi tidak berani marah pada ketidakberdayaanmu sendiri.”

Arman menampar meja. “Aku sudah berusaha!”

“Berusaha bertahan,” perjelas Kemiskinan. “Bukan berusaha keluar.”

Sunyi.

Batuk anaknya terdengar lagi. Lebih keras. Arman menunduk. Tangannya gemetar.

“Apa kau akan terus tinggal di sini?” suaranya melemah.

Kemiskinan mendekat, berbisik pelan, “Selama kau takut gagal, aku nyaman di rumah ini.”

Arman mengangkat wajahnya perlahan.

“Kalau aku gagal?”

“Kau sudah gagal sekarang,” jawabnya tenang.

Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan. Beberapa detik hening.

Lalu Arman berdiri tegak. “Baik,” katanya pelan tapi mantap.

“Besok aku tidak akan menunggu panggilan. Aku akan cari sendiri. Aku akan datangi orang-orang yang menolak lamaran kerjaku. Aku akan tawarkan jasa. Aku akan buka usaha kecil, apa pun. Aku tidak peduli ditertawakan.”

Kemiskinan tersenyum tipis. “Kau yakin?”

“Aku tidak punya pilihan.”

Kemiskinan berjalan menuju pintu.

“Kau pergi?” tanya Arman.

“Belum,” jawabnya. “Aku tidak pergi secepat itu. Tapi malam ini, aku mulai tidak nyaman.”

Ia membuka pintu. Angin malam masuk, membuat lampu minyak hampir padam.

Kemiskinan menoleh sekali lagi. “Ingat, aku tidak kuat di rumah orang yang berani mencoba berkali-kali.”

Pintu tertutup.

Rumah kembali sunyi.

Arman berdiri lama di ruang tamu. Lalu ia masuk ke kamar, memandangi anaknya yang tertidur dengan napas berat.

Ia mengusap rambut kecil itu pelan. “Besok,” bisiknya, “kita mulai lagi.”

Selesai...


© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.


Keywords: Cerpen Kemiskinan, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen realisme sosial, cerpen reflektif, cerita pendek keluarga, cerpen inspiratif.

×