Cerpen Eksklusif
5 Ramadhan 1447 H / 23-02-2026
Erwinsyah Putra
Hadiah Langsung Dari Langit
Subuh belum benar-benar selesai ketika Rian duduk di boncengan motor kakaknya. Udara masih dingin. Jalanan belum ramai.
Di tangannya tak ada mushaf, tapi di kepalanya ada tiga puluh juz yang berdenyut pelan.
“Kak,” katanya sambil tersenyum kecil, “kalau Rian sudah genap tiga puluh juz… Rian mau hadiah langsung dari Allah.”
Kakaknya tertawa. “Hadiah apa? Sepeda baru?”
Rian menggeleng. “Hadiah yang Allah pilih sendiri.”
Motor melaju pelan. Dari rumah, Rian sudah memulai An-Naba. Suaranya tidak keras, tapi jelas. Pesantren kilat menunggu di sekolah. Hari itu ia berniat menutup hafalannya: Juz terakhir, Juz tiga puluh.
Di sisi lain jalan, di sebuah posko kecil yang lampunya belum dimatikan, seorang anggota Brimob duduk berseragam lengkap. Helm taktis ada di meja. Di tangannya ponsel menyala, slot online berputar cepat. Saldo menipis. Dunia terasa mengejek.
Motor Rian melintas pelan di depan posko. Lampu sein menyala terlambat. Teguran keras memecah pagi yang masih rapuh.
“Maaf, Pak. Kami mau ke sekolah. Pesantren kilat,” jawab kakaknya sopan.
Slot di layar tinggal sedikit. Sesak, panas, butuh pelampiasan, dan yang paling dekat adalah dua anak di atas motor. Rian tetap melanjutkan membaca Al-Qur’an, mantap dan tenang.
Helm di meja diambil. Tangan gemetar. Rian menutup hafalan dengan ayat terakhir: “Minal jinnati wan naas.”
Dhuuuarrrr.
Tubuh kecil itu terjatuh pelan, seperti daun dilepas angin.
Di jalan itu, dua dunia bertabrakan: satu hati yang penuh hafalan, satu hati yang penuh kekalahan.
Rian tidak lagi membaca. Sejak An-Naba hingga An-Nas, ia telah menutup tiga puluh juz. Ia dipanggil dengan cara yang mungkin dipahami langit, bukan manusia.
Di jalan yang masih basah oleh sisa embun, seorang anak kecil menutup hafalan Al-Qur’an, dan seorang pria dewasa menghadapi penyesalan yang tak bisa diperbaiki.
© 2026 Erwinsyah Putra. Dilarang menyalin tanpa izin.
Keywords: Cerpen Hadiah Langsung Dari Langit, Cerpen Ramadhan 1447 H, Cerpen Erwinsyah Putra, cerpen religius, cerpen realisme sosial, cerpen reflektif, cerpen kritik sosial.