Notification

×

Kategori Berita

Cari Karya Fiksi

Iklan

KOP FILLO

LOMBA CERPEN

FILLO PDF

PARFUM

Cerpen: Lukisan yang Berbisik

Minggu, 15 Maret 2026 | 01.02 WIB Last Updated 2026-03-14T18:03:36Z
Lukisan yang Berbisik | Cerpen Horor Psikologis Erwinsyah Putra
Cerpen Lukisan yang Berbisik Karya Erwinsyah Putra

Lukisan yang Berbisik

Oleh Erwinsyah Putra

Hujan baru saja reda ketika Raka melangkah masuk ke toko barang antik di sudut kota.

Bau kayu tua dan debu menyergap hidungnya, tapi matanya tertuju pada sebuah kanvas dengan bingkai kayu lapuk yang tersandar di dinding.

Entah mengapa, kanvas itu seolah memanggilnya.

"Berapa harga kanvas ini, Pak?"

Pria tua bermata sayu menatapnya lama. "Itu sudah lama ada di sini. Ambil saja. Anggap hadiah."

Raka mengernyit. Hadiah? Tapi ia tak bertanya lagi. Ia membawa kanvas itu pulang.

***

Di studionya yang kecil, Raka mulai melukis. Awalnya ia ingin membuat sesuatu yang abstrak, tapi jari-jarinya bergerak sendiri.

Satu jam berlalu. Dada Raka mulai sesak. Di kanvas itu terbentuk wajah seorang wanita yang tak dikenalnya, tapi matanya terasa hidup, menatapnya. Ia mundur selangkah. Mungkin hanya imajinasi. Ia memutuskan tidur.

***

Dalam mimpinya, hujan turun deras. Lampu jalan temaram. Seorang wanita berdiri di trotoar dengan gaun putih basah kuyup. Ia menangis. Raka ingin mendekat, tapi tubuhnya tak bisa bergerak.

Wanita itu mengangkat wajahnya. Wajah itu sama dengan yang ia lukis.

Raka terbangun dengan napas memburu. Mata dalam kanvas terasa lebih dalam.

***

Ia kembali melukis. Bayangan di bawah mata, lengkung bibir, helaian rambut. Saat kuas menyentuh leher, suara lirih terdengar: "Selesaikan aku..."

Kuas jatuh. Jantungnya menghantam dada. Suara itu datang dari lukisan. Setetes air mengalir dari sudut mata wanita itu, seperti air mata.

***

Raka mencari jawaban. Ia mengunggah foto lukisan ke internet. Dua hari tanpa respons, hingga pesan masuk dari seseorang bernama Bagas: "Di mana kau menemukan lukisan itu?"

Bagas mengaku saudara Laras, wanita yang hilang sepuluh tahun lalu.

***

Mereka bertemu di desa kecil. Bagas menunjukkan foto lama. Wajah yang sama. "Tiga hari sebelum menghilang, Laras berkata seseorang akan melukisnya."

Raka merinding. Di bawah kanvas ada goresan samar: koordinat lokasi.

***

Mereka menuju hutan tua. Tanah di sana gelap. Mereka menggali. Sebuah tengkorak muncul. Gaun putih masih utuh. Angin bertiup kencang. "Terima kasih telah menemukanku..."

Malam itu, lukisan kembali berbisik: "Sekarang giliranmu..." Ruangan berputar. Gelap.

Raka berdiri di jalanan hujan. Laras di depannya. "Kau bagian dari cerita ini," bisiknya. Ingatan menyerbu: sepuluh tahun lalu, pertengkaran, dorongan, kepala Laras terbentur batu. Ia menyeret tubuh itu ke hutan, menguburnya, melupakan semuanya. Namun dosa tak pernah hilang.

"Sekarang kau ingat," kata Laras. Raka berlutut. "Apa yang harus aku lakukan?" "Kebenaran harus diungkap."

***

Raka terbangun. Di sudut kanvas tertulis: Hujan. Hutan. Kebenaran. Keesokan harinya, ia menyerahkan diri ke polisi. Kasus orang hilang terungkap. Raka menerima hukumannya. Di balik jeruji, ia melukis wajah Laras lagi dan lagi. Kini, dalam setiap lukisan, Laras selalu tersenyum.

© 2026 Erwinsyah Putra. Seluruh hak cipta dilindungi undang-undang.
Kata Kunci:
Lukisan yang Berbisik, cerpen horor Indonesia, misteri pembunuhan, Laras dan Raka, cerpen psikologis, karya Erwinsyah Putra
×